PSI Perkuat Barisan, Nina Agustina Jadi Figur Kunci di Jawa Barat

Nina Agustina
Nina Agustina

KOMPARASI.ID – Peta politik Jawa Barat kembali bergerak. Mantan Bupati Indramayu, Nina Agustina Bachtiar, resmi bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Kepindahan kader yang sebelumnya bernaung di PDI Perjuangan ini bukan sekadar perpindahan partai, tetapi sinyal konsolidasi kekuatan baru di salah satu provinsi dengan basis pemilih terbesar di Indonesia.

Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, menyambut langkah tersebut sebagai suntikan energi politik baru bagi partainya di Jawa Barat.

“Dengan bergabungnya Ibu Nina Bachtiar, saya meyakini itu akan menambah energi baru bagi PSI yang ada di Jawa Barat,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Jawa Barat sebagai Arena Strategis

Jawa Barat bukan sekadar wilayah administratif, melainkan medan pertarungan politik nasional. Dengan jumlah pemilih yang besar dan dinamika politik yang cair, provinsi ini kerap menjadi penentu arah kontestasi nasional.

Baca Juga :  Roni-Adnan Siapkan Beasiswa Kedokteran untuk Putra Dulamayo, Jawab Krisis Tenaga Medis

Penugasan awal Nina akan difokuskan pada penguatan struktur wilayah Jawa Barat. Bagi PSI, kehadiran figur dengan pengalaman eksekutif di daerah dinilai penting untuk memperluas penetrasi sekaligus meningkatkan kredibilitas partai di tingkat lokal.

Ahmad Ali menegaskan, semakin banyak tokoh daerah dan nasional yang merapat menunjukkan daya tarik PSI yang kian meningkat. Bahkan, menurutnya, partai tersebut menerima kader baru hampir setiap hari.

Restu Jokowi dan Faktor Kedekatan Politik

Sebelum kepindahannya diumumkan, Nina lebih dulu menemui Joko Widodo di Solo untuk meminta restu. Ia menyebut keputusan tersebut mendapat sambutan positif.

“Semuanya adalah yang terbaik. Saya pernah bergabung memberikan kebaikan di Indramayu. Saat ini mungkin bergabung dengan Bapak di PSI di Jawa Barat. Alhamdulillah beliau merestui,” kata Nina.

Pengakuan itu mempertegas satu hal: faktor Jokowi menjadi variabel penting dalam dinamika internal PSI. Nina menyebut kesamaan visi dan semangat pelayanan masyarakat sebagai alasan utama memilih PSI. Hubungan keduanya, menurutnya, telah terjalin sejak ia menjabat sebagai Bupati Indramayu.

Baca Juga :  Sekjend PDI Perjuangan Angkat Bicara Wacana Duet Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto

Dalam konteks politik nasional, langkah ini memperkuat spekulasi tentang konsolidasi kekuatan berbasis “Jokowi Effect” di tubuh PSI.

PSI sebagai “Ruang Baru”

Juru Bicara PSI, Faldo Maldini, menilai perpindahan kader ke PSI bukan kebetulan. Ia menyebut partainya kini dipandang sebagai ruang politik yang lebih segar dan relevan.

“PSI hari ini bukan sekadar partai, tapi ruang baru bagi politik yang mau kerja, bukan sekadar bicara. Banyak orang merasa PSI lebih segar, lebih terbuka,” tegas Faldo.

Narasi ini memperlihatkan upaya PSI membangun citra sebagai partai kerja dan alternatif bagi politisi yang mencari kanal politik baru di luar partai besar tradisional.

Baca Juga :  IRIS Gelar Penguatan Tim Pemenangan di Bone Pesisir

Deretan Nama dan Konsolidasi Internal

Bergabungnya Nina Agustina menambah daftar figur yang merapat ke PSI, di antaranya Ahmad Ali, Bestari Barus, Rusdi Masse Mappasess, Ricky Valentino, dan I Wayan Suyasa. Deretan nama ini memperlihatkan strategi ekspansi yang sistematis—menggaet figur dengan basis daerah dan pengalaman politik yang cukup matang.

Secara politik, langkah ini bisa dibaca sebagai bagian dari strategi jangka panjang PSI untuk memperkuat fondasi menjelang kontestasi berikutnya. Jawa Barat menjadi laboratorium awal konsolidasi tersebut.

Namun, sebagaimana dinamika partai yang tengah bertumbuh, tantangan terletak pada kemampuan mengintegrasikan para tokoh baru ke dalam struktur dan narasi politik yang solid. Apakah PSI mampu mengubah arus migrasi politik ini menjadi kekuatan elektoral nyata? Waktu dan konsistensi kerja politik akan menjadi jawabannya.