KOMPARASI.ID – Kota Gorontalo kini punya denyut malam yang berbeda. Jika dulu pusat kota hanya ramai pada pagi hari, ketika Pasar Sentral dipenuhi pedagang bahan pokok dan pembeli yang bergegas menyiapkan kebutuhan rumah, kini suasananya berubah total setelah matahari tenggelam.
Sekitar pukul 19.00, ketika sebagian besar warga sudah bersiap pulang, Pasar Sentral justru perlahan hidup kembali, bukan sebagai pasar tradisional, melainkan sebagai ruang berkumpul generasi muda.
Kursi lipat ala camping, meja portabel, lampu-lampu mungil, dan booth modern yang ringkas memenuhi lorong-lorong pasar yang sebelumnya lengang.
Fenomena ini mengingatkan sebagian warga akan budaya nongkrong di Gorontalo dari masa ke masa.
Pada awal 2000-an, tempat berkumpul anak muda biasanya berpusat di warung kopi yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Nongkrong berarti duduk di kursi kayu, memesan kopi tubruk, ditemani suara televisi atau radio.
Memasuki 2010-an, budaya itu berpindah ke coffee shop modern dengan konsep minimalis, beberapa hadir di pusat kota, sebagian lagi menumpang di ruko-ruko lama.
Namun generasi muda hari ini menghadirkan generasi baru, street coffee, ruang komunal yang tak lagi bergantung pada bangunan permanen, tetapi pada kreativitas, efisiensi, dan kedekatan dengan publik.
Pasar Sentral menjadi wajah paling mencolok dari transformasi itu.
“Saya senang di sini karena kopinya hitam dan rasanya lebih nendang kalau dinikmati di ruang terbuka,” kata Iswanto, salah satu pengunjung yang datang hampir setiap malam sepulang kerja.
Ia mengaku suasana langit malam membuat kopi hitam terasa lebih hangat dibanding saat diminum di kedai tertutup.

Annisa, mahasiswi yang malam itu sedang duduk bersama dua rekannya, memesan minuman berbeda, ice cokelat.
“Saya suka yang dingin karena lebih segar. Nongkrong di sini lebih santai, tidak canggung seperti di kafe,” ujarnya sambil tersenyum, sesekali melihat jajaran booth yang semakin malam semakin ramai.
Keramaian ini tidak hanya berhenti di area pasar. Dari Pasar Sentral, deretan pedagang kopi merembet hingga Jalan Pandjaitan dan mencapai depan Kantor Wali Kota Gorontalo.
Setiap malam, rasa penasaran pengunjung membuat lalu lintas melambat. Ada yang berjualan di badan jalan, ada pula yang memanfaatkan teras ruko.
Walau berbeda bentuk, semuanya mengusung konsep yang serupa, ringkas, modern, rapi, dan ramah anak muda.
Sebagian besar pedagang adalah barista muda yang mengemas kreativitas dalam bentuk minuman, musik, hingga cara berinteraksi dengan pelanggan.
Bagi warga, perubahan ini menjadi semacam oase sosial. Tidak hanya Gen Z dan milenial yang berdatangan, tetapi orang tua dan lansia pun ikut menikmati suasana.
Bagi Sahrul, seorang pelaku usaha kecil yang sering membawa laptopnya ke area tersebut, street coffee bukan sekadar tempat minum kopi.
“Saya biasanya pesan ice coffee aren. Manisnya pas. Tapi yang paling saya suka adalah tempat ini jadi ruang silaturahmi. Bisa ketemu teman baru, bisa diskusi ide bisnis, bisa bertukar pengalaman,” ujarnya.
Menurutnya, suasana terbuka membuat obrolan mengalir lebih leluasa, berbeda dari kafe yang cenderung membuat orang tenggelam dengan gawainya masing-masing.

Fenomena street coffee ini tak luput dari perhatian Wali Kota Gorontalo, Hi. Adhan Dambea.
Diberbagai platform media ia menyebut, hadirnya puluhan booth kopi di pusat kota sebagai bukti bahwa ekonomi kreatif anak muda sedang bertumbuh dengan sehat.
Dukungan pun diberikan, sebab ruang seperti ini bukan hanya menggerakkan roda ekonomi kecil, tetapi juga membentuk pola interaksi baru yang lebih inklusif.
Tanpa sekat sosial, tanpa aturan berpakaian, tanpa keharusan membeli dengan harga mahal, siapa pun bisa datang, duduk, dan menikmati suasana.
Dibandingkan dengan budaya nongkrong dua dekade lalu, transformasi ini terasa besar.
Dulu, nongkrong berarti melarikan diri dari kesibukan, kini nongkrong adalah ruang membangun jaringan, mengembangkan ide bisnis, memulai kolaborasi, atau sekadar merayakan keberadaan kota yang perlahan menjadi lebih ramah kepada anak muda.
Dulu, kopi hanya minuman, kini kopi adalah medium pertemuan.
Selama beberapa bulan terakhir, fenomena street coffee membuat wajah Kota Gorontalo berubah lebih hidup, lebih muda, dan lebih kreatif.
Di bawah langit malam yang luas, kursi lipat, lampu portable, kopi hangat, minuman dingin, dan deretan booth modern menjadi simbol energi baru yang bergerak dari akar rumput.
Kota ini ternyata tidak membutuhkan ruang mewah untuk tampil modern, cukup memberi ruang bagi imajinasi anak muda, dan sisanya akan tumbuh dengan sendirinya.















