KOMPARASI.ID – Menjelang imsak di hari pertama Ramadhan, dapur-dapur di Gorontalo sering kali lebih hidup dari biasanya.
Asap tipis mengepul dari panggangan, wangi rempah menyeruak dari wajan, dan satu menu hampir selalu hadir di meja, ayam.
Bagi sebagian masyarakat, sahur pertama tanpa hidangan ayam terasa kurang lengkap, sebuah kebiasaan tak tertulis yang terus dijaga lintas generasi.
Tradisi ini bukan sekadar soal selera. Di balik pilihan menu tersebut, tersimpan makna simbolik tentang kesiapan menyambut bulan suci dengan yang terbaik.
Ayam dianggap lauk istimewa cukup bergizi, mudah diolah, dan disukai semua anggota keluarga.
Maka, menghadirkannya di sahur pertama menjadi penanda dimulainya ibadah puasa dengan semangat dan rasa syukur.
Di sejumlah keluarga, dua olahan yang kerap menjadi pilihan adalah Ayam Bakar Iloni dengan balutan bumbu rempah khas yang meresap hingga ke serat daging, serta Ayam Kari Pilitode dengan kuah gurih dan kaya rasa.
Keduanya bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghadirkan suasana hangat kebersamaan.
Jamila, seorang ibu rumah tangga di Kota Gorontalo, mengaku selalu menyiapkan ayam untuk sahur pertama bersama keluarganya. Baginya, kebiasaan itu sudah berlangsung sejak ia berkeluarga.
“Dari dulu orang tua saya selalu masak ayam di sahur pertama. Jadi sekarang saya lanjutkan untuk anak-anak. Rasanya seperti ada yang kurang kalau bukan ayam,” ujar Jamila.
Menurutnya, sahur pertama memiliki nuansa yang berbeda dibanding hari-hari berikutnya. Ada rasa haru sekaligus semangat yang bercampur menjadi satu.
“Kalau sahur pertama itu seperti pembuka. Kita ingin mulai Ramadhan dengan yang terbaik. Ayam itu simbolnya istimewa, bukan makanan sehari-hari saja,” tambahnya.
Jamila juga menuturkan bahwa momen memasak bersama di dapur menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.
Ia biasanya mulai menyiapkan bumbu sejak malam, sementara suaminya membantu menyiapkan peralatan memasak.
“Anak-anak memang masih mengantuk, tapi mereka selalu semangat kalau tahu sahurnya ayam bakar iloni. Itu yang bikin suasana jadi hangat,” katanya.
Di tengah perubahan gaya hidup yang semakin praktis, tradisi sahur dengan ayam mungkin tidak lagi dijalankan semua keluarga.
Namun bagi sebagian masyarakat Gorontalo, kebiasaan ini tetap menjadi cara sederhana menjaga identitas kultural sekaligus merawat nilai kebersamaan.
Ramadhan selalu datang membawa harapan baru. Dan di banyak rumah di Gorontalo, harapan itu kerap diawali dengan aroma ayam yang mengepul di meja sahur, sebagai simbol syukur, semangat, dan kesiapan menjalani ibadah sebulan penuh.










Leave a Reply