KOMPARASI.ID – Menjelang senja, angin dari pesisir Pohuwato datang pelan, membawa aroma asin laut yang tipis. Di tepi jalan kawasan wisata Pohon Cinta, deretan lapak kopi mulai hidup.
Mesin grinder berdengung, gelas-gelas plastik beradu, dan kursi-kursi portabel berwarna-warni disusun menghadap laut.
Dari titik ini, pengunjung bisa melihat garis pantai membentang. Matahari yang turun perlahan menjadi latar bagi geliat baru ekonomi warga, street coffee yang belakangan tumbuh sebagai simpul pertemuan, sekaligus ruang usaha yang lebih tertata.
Sebelumnya, para pelaku UMKM tersebar di berbagai titik, ada yang bertahan di bahu jalan pusat perkantoran, ada pula yang berpindah-pindah mengikuti keramaian.
Kini, mereka dipusatkan di satu kawasan. Pemerintah daerah menyediakan lapak, membentuk semacam koridor usaha yang lebih rapi dan mudah dijangkau.
Saat malam turun, suasana berubah. Bohlam-bohlam lampu dipasang melintang di antara pohon ketapang, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat.
Di balik meja barista, bentangan mangrove tampak samar, sementara jalanan di depannya tetap ramai oleh lalu-lalang kendaraan.
Tak hanya kopi yang jadi daya tarik. Di sela-sela lapak, deretan rental PlayStation ikut meramaikan suasana.
Anak-anak muda duduk berhadap-hadapan, jari-jemari mereka lincah di atas stik, bersaing dalam permainan favorit. Street coffee di Pohuwato tak sekadar tempat minum, ia menjadi ruang sosial baru.
Ica (28), salah satu pengunjung, mengaku menikmati suasana yang ditawarkan. Baginya, tempat ini menghadirkan kombinasi yang jarang, kopi, angin laut, dan cahaya lampu yang membentuk nuansa santai.
“Ini sangat bagus, nuansanya, bahkan kopi-kopinya enak,” ujarnya.
Namun, di balik kesan itu, ada catatan yang ia anggap penting. Jalan menuju lokasi, terutama dari jalur Trans Sulawesi hingga kawasan Pohon Cinta, dinilai minim penerangan.
“Hanya saja yang mengganjal, sepanjang jalan dari jalan Trans sampai ke lokasi itu kurang, bahkan nyaris tidak terlihat penerangan jalan umum,” katanya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Minimnya lampu jalan membuat sebagian pengunjung merasa cemas, terutama pada malam hari.
Risiko kendaraan melaju tanpa lampu, atau pengendara yang melintas dengan kecepatan tinggi, menjadi bayangan yang tak sepenuhnya hilang.
Padahal, menurut Ica, street coffee ini sudah memenuhi satu syarat penting sebagai episentrum tongkrongan anak muda, akses, suasana, dan daya tarik visual. Tinggal satu hal yang belum menyusul, rasa aman.
“Penerangan itu bisa jadi magnet wisatawan. Orang tidak hanya datang ke kopi street, tapi juga menikmati suasana pantai. Kalau jalannya terang, pengunjung pasti lebih nyaman,” ujarnya.
Di Pohon Cinta, geliat ekonomi kecil itu kini benar-benar terasa. Lapak-lapak kopi menjadi bukti bahwa UMKM bisa tumbuh ketika diberi ruang yang terarah.
Namun, seperti cahaya bohlam yang tak menjangkau seluruh jalan, geliat ini masih menyisakan sisi gelap yang perlu segera diterangi.










Leave a Reply