KOMPARASI.ID, POLITIK – Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI DPD II Partai Golkar Kota Gorontalo berlangsung di Grand Q Hotel Gorontalo.
Kegiatan ini dihadiri seluruh pimpinan dan pengurus Partai Golkar, serta perwakilan sejumlah partai politik lainnya.
Turut hadir pimpinan partai politik seperti PDI Perjuangan, NasDem, Gerindra, PPP, dan partai politik lainnya.
Musda juga diikuti oleh pengurus Partai Golkar dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo.
Dalam Musda tersebut, kandidat Ketua DPD II Partai Golkar Kota Gorontalo mengerucut menjadi dua nama, yakni Fikram AZ Salilama dan Meyke Camaru.
Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah, hadir langsung dan membuka Musda secara resmi yang ditandai dengan penabuhan gendang.

Dalam sambutannya, Idah Syahidah menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir dirinya telah melakukan rangkaian road show Musda di sejumlah daerah, mulai dari Kabupaten Boalemo, Bone Bolango, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, hingga pelaksanaan Musda terakhir di Kota Gorontalo.
Ia menilai dinamika politik di setiap daerah berbeda-beda. Di beberapa daerah, Musda berlangsung secara aklamasi, seperti di Bone Bolango, Gorontalo Utara, dan Boalemo.
Namun Musda di Kota Gorontalo dinilainya paling menarik karena melahirkan dua kandidat.
“Di Pohuwato juga cukup seru karena ada dua kandidat yang sama-sama berperan membesarkan Golkar. Di Kota Gorontalo ini pun demikian, karena kedua kandidat memiliki basis massa yang kuat dan sama-sama anggota DPRD Provinsi Gorontalo,” ujar Idah.
Fikram AZ Salilama diketahui telah lima periode menjabat sebagai anggota DPRD, sementara Meyke Camaru telah dua periode duduk sebagai legislator.

Saat ini, Fikram menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Golkar Kota Gorontalo, sedangkan Meyke Camaru menjabat sebagai Sekretaris DPD II.
“Entah siapa yang akan menang, apakah yang lima periode atau dua periode,” tutur Idah.
Ia menegaskan bahwa Musda bukanlah ajang persaingan yang memecah belah partai, melainkan momentum untuk memajukan Partai Golkar ke depan.
“Saya tidak mau di Musda ini ada kotak-kotakan. Silakan bertarung secara jentel. Sebagai Ketua DPD I, saya bersikap normatif dan tidak memihak siapa pun, sebagaimana yang saya sampaikan di Musda-Musda lainnya,” tegasnya.
Idah juga menyinggung adanya isu bisikan-bisikan dan intimidasi yang sempat muncul pada Musda sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya adalah Ketua DPD I Golkar, bukan pihak yang melakukan bisikan tersebut, dan tetap berkomitmen bersikap netral dalam seluruh pelaksanaan Musda.
Menurutnya, esensi Musda adalah menyatukan gagasan, visi, dan misi, serta memperkuat soliditas partai agar Golkar semakin maju dan lebih baik ke depan.
“Intinya torang bikin bae. Siapa pun yang terpilih nanti harus saling mendukung dan memajukan program-program Pemerintah Kota Gorontalo, karena Partai Golkar selalu bergandengan dengan pemerintah,” ujarnya.
Pada Musda ke-XI ini, Idah berharap proses pemilihan tidak berakhir imbang. Pasalnya, jika terjadi jumlah suara yang sama, DPD I memiliki hak menentukan pilihan.

“Jangan sampai draw suaranya, karena dua-duanya sahabat saya. Kalau sampai begitu, saya bisa bingung memilih dan saya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Idah Syahidah yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Gorontalo berharap, di tangan Fikram AZ Salilama maupun Meyke Camaru, Partai Golkar Kota Gorontalo dapat dibawa menjadi lebih baik.
“Siapa pun yang terpilih, keduanya adalah kader terbaik Golkar Kota Gorontalo. Kalian memiliki visi dan misi yang baik. Wujudkan Golkar sebagai rumah yang indah, aman, dan berpihak pada rakyat,” pungkasnya.
Ia menambahkan, ketua terpilih nantinya tidak hanya memimpin DPD II Golkar Kota Gorontalo, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk membawa Golkar menjadi partai terdepan pada Pemilu 2029 mendatang.













