Save 20% off! Join our newsletter and get 20% off right away!

Bawa Nama Daerah, Atlet Popnas Sepak Bola Gorontalo Malah Diminta Cari Sponsor Sendiri

KOMPARASI.ID –  Ironi tengah menyelimuti dunia olahraga Gorontalo.

Tim sepak bola pelajar yang akan berlaga di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2025 di Jakarta, membawa nama Pemerintah Provinsi Gorontalo, justru diminta mencari sponsor sendiri untuk menutupi biaya tiket keberangkatan.

“Kami diminta cari sponsor, padahal ini agenda resmi Kemenpora. Kalau begini caranya, untuk apa ada Dispora?” ujar Syaiful Yahya, Pelatih Kepala Tim Popnas Sepak Bola Gorontalo, Jumat (25/10/2025).

Baca Juga :  Kisah Perjuangan Pelajar di Gorontalo Patungan Demi Bertanding di Turnamen Mini Soccer

Menurut Syaiful, seluruh biaya akomodasi dan konsumsi selama Popnas sudah dijamin panitia pusat di Jakarta.

Yang dibutuhkan tim Gorontalo hanyalah tiket pesawat pulang-pergi, dengan estimasi biaya sekitar Rp100 juta untuk seluruh anggota tim.

“Soal uang saku biarlah kami tanggung sendiri. Kami hanya ingin berangkat membawa nama daerah,” katanya.

Meski begitu, hingga kini Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Gorontalo belum juga memberikan kepastian dukungan.

Baca Juga :  KEPMMI Fun Futsal Tournament 2024: Ajang Silaturahmi Mahasiswa Nusantara di Gorontalo

“Kami meminta bantuan uang tiket pada Dispora karena bawa nama Gorontalo, perihal uang untuk anak-anak saya bisa cari dari sponsor,”tuturnya.

Sebaliknya, pelatih dan atlet malah diminta mencari sponsor pribadi untuk menanggung biaya keberangkatan.

Syaiful menilai sikap pemerintah provinsi ini mencederai semangat generasi muda yang telah berjuang tanpa pamrih.

Selama berbulan-bulan, para atlet muda berlatih keras di Lapangan Kompi Liluwo, Kota Gorontalo, tanpa bantuan, tanpa fasilitas, bahkan tanpa sekadar kunjungan dari pejabat Dispora.

Baca Juga :  KONI Pusat Putuskan Musorcab KONI Kabupaten Gorontalo 2025 Diulang

“Anak-anak ini sudah berlatih dari lama. Keringat mereka untuk Gorontalo, tapi perhatian dari pemerintah nihil,” ujarnya.

Bagi Syaiful, perjuangan anak-anak asuhnya bukan sekadar soal kemenangan, tetapi tentang harga diri daerah.

“Kami tidak butuh tepuk tangan. Kami hanya ingin dimudahkan,” tutupnya lirih.