KOMPARASI.ID – Di tengah ritme harian yang kian padat, coffee shop tak lagi sekadar tempat minum kopi. Ia berubah menjadi ruang singgah, untuk rehat sejenak, bekerja, atau sekadar memulihkan jarak dari keramaian.
Di Jalan DI Panjaitan, sebuah coffee shop bernama Culture mencoba mengisi peran itu dengan konsep traveling yang terasa sejak pertama kali melangkah masuk.
Culture menghadirkan dua pilihan ruang, indoor dan outdoor.
Area dalam ruangan dilengkapi pendingin udara (AC), dengan tata meja yang memungkinkan pengunjung bertahan lama baik untuk mengerjakan tugas, bekerja jarak jauh, maupun sekadar duduk tenang.
Sementara area luar menjadi pilihan bagi mereka yang ingin suasana lebih terbuka, bercampur cahaya alami dan lalu-lalang sekitar.

Interior Culture tidak dibangun dengan kemewahan berlebihan. Dinding-dindingnya justru dipenuhi mural dan ornamen bernuansa perjalanan, dengan warna-warna lembut yang mengingatkan pada suasana pantai.
Pilihan ini, menurut Jason pemilik Culture bukan tanpa alasan.
“Untuk dekorasi ruangannya lebih banyak suasana pantai, karena melihat keluarga saya memang suka jalan-jalan atau traveling,” ujar Jason.
Konsep traveling itu pula yang menjadi benang merah penamaan Culture. Jason menyebut, nama Culture lahir dari gagasan tentang pertemuan berbagai daerah dan selera dalam satu ruang.
“Filosofi Culture Express itu karena kopi kami to go, penyajiannya cepat dan tepat. Sedangkan nama Culture sendiri adalah penyatuan dari berbagai daerah, karena di sini juga ada varian food, terutama Korean food,” kata Jason.
Sebagai coffee shop yang terbilang muda belum genap setahun berdiri Culture mencoba membangun pengalaman berbeda, bukan hanya lewat menu, tetapi juga layanan. Di sini, pengunjung tidak dibiarkan mencari-cari perhatian pelayan.
“Setiap konsumen yang datang untuk pesan menu, justru kami yang datang menawarkan, bahkan kami juga yang mengantarkan pesanannya,” jelas Jason.
Pendekatan layanan ini membuat Culture terasa lebih personal, jauh dari kesan kaku. Pengunjung diperlakukan sebagai tamu yang disambut, bukan sekadar pembeli.
Soal menu, Culture tidak hanya mengandalkan kopi klasik. Salah satu yang kerap direkomendasikan adalah Markisa Americano minuman yang memadukan espresso dengan rasa buah markisa.
“Jadi ngopi serasa ngopi yang ada buahnya. Tapi kopi ini base-nya espresso, bukan kopi arabika fruit dengan base V60,” ujar Jason.
Perpaduan rasa tersebut memberi pengalaman yang berbeda, asam segar buah berpadu dengan pahit kopi, tanpa meninggalkan karakter espresso itu sendiri.
Selain kopi, tersedia pula menu non-coffee serta makanan pendamping, termasuk varian Korean food yang menegaskan konsep lintas budaya yang diusung Culture.
Untuk jam operasional, Culture membuka ruang cukup panjang bagi pengunjung.
Pada hari biasa, coffee shop ini buka mulai pukul 08.00 hingga 00.00 WITA. Sementara khusus malam Minggu, Culture buka lebih awal dan tutup lebih larut, yakni dari pukul 07.00 hingga 01.00 WITA.
Dengan suasana yang tenang, pilihan ruang indoor ber-AC, layanan yang ramah, serta konsep traveling yang konsisten, Culture perlahan memposisikan diri sebagai lebih dari sekadar tempat ngopi.
Ia menjadi ruang singgah bagi mereka yang ingin berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.















