Menimbang Peran Jusuf Kalla dalam Lintasan Politik Joko Widodo

sumber foto : menpan.go.id
sumber foto : menpan.go.id

KOMPARASI.ID – Pernyataan juru bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, kembali membuka diskusi lama, seberapa besar peran JK dalam mengantar Joko Widodo dari panggung lokal ke arena politik nasional.

Husain menyebut JK sebagai figur “pembuka” dalam perjalanan politik Jokowi. Ia merujuk pada fase awal ketika Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo dan didorong maju dalam kontestasi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012.

Menurut Husain, dorongan tersebut bukan sekadar simbolik. JK disebut terlibat dalam proses lobi politik, termasuk komunikasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, dukungan juga mencakup aspek teknis kampanye, mulai dari penyediaan logistik hingga konsultan politik.

Baca Juga :  Lola Junus: Perempuan di Balik Kebangkitan Partai Nasdem Kota Gorontalo

Dalam narasi yang disampaikan, Husain mengibaratkan kontribusi JK sebagai “pembukaan” dalam sebuah struktur besar membuka jalan bagi fase-fase berikutnya dalam karier politik Jokowi.

“Dalam setiap kontestasi ada proses, dan Pak JK berada di bagian awal proses itu,” ujarnya. Dilansir dari CNN Indonesia

Namun, penegasan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia muncul di tengah meningkatnya tensi di ruang publik digital.

Sejumlah relawan Jokowi di media sosial disebut melontarkan tudingan yang menyasar JK, termasuk isu pendanaan aksi massa. Tuduhan itu dibantah keras.

Baca Juga :  HDCI Chapter Makassar Gelar Celebes Fun Ride 2024, Salurkan Bantuan di Gorontalo

Husain mengatakan, respons JK belakangan lebih dipicu oleh rasa tidak nyaman atas serangan tersebut, bukan karena persoalan pribadi dengan Jokowi.

Ia menilai ada kecenderungan sebagian pendukung melupakan konteks sejarah politik yang lebih luas.

“Beliau tidak nyaman ketika terus-menerus dipojokkan dengan tudingan yang tidak berdasar,” kata Husain.

Di sisi lain, JK sendiri sebelumnya sempat menegaskan kembali perannya dalam perjalanan politik Jokowi, bahkan menyebut istilah “termul-termul” sebagai bentuk penegasan kontribusinya.

Sementara itu, Joko Widodo merespons santai pernyataan tersebut. Dalam keterangannya di Solo, Senin (20/4), ia merendahkan peran dirinya dengan mengatakan, “Saya ini bukan siapa-siapa, orang kampung.”

Baca Juga :  Film "Lafran Pane" Diputar 7 Kali Sehari di Gorontalo, Antusiasme Penonton Membludak 

Pernyataan itu, meski singkat, memperlihatkan kontras gaya komunikasi antara dua tokoh yang pernah berada dalam satu poros kekuasaan.

Di satu sisi, ada upaya penegasan peran historis; di sisi lain, ada narasi kerendahan diri yang justru memperkuat citra personal.

Di titik ini, perdebatan tentang “siapa berperan apa” dalam perjalanan politik Jokowi tampaknya bukan semata soal fakta, melainkan juga soal ingatan kolektif dan bagaimana ia dipertahankan, diperdebatkan, atau bahkan dilupakan.

Lulusan Ilmu Komunikasi konsentrasi jurnalistik ini meniti karier dari dunia penyiaran radio. Ia juga sempat berkarir di media cetak majalah dan surat kabar dengan pengalaman di berbagai media lokal hingga nasional. Perjalanan yang dimulainya sejak tahun 2012 ini membentuknya sebagai jurnalis yang, adaptif, dan berorientasi pada kekuatan narasi.