Ambisi Politik FM, Menuju Peran ‘King Maker’ dalam Dinamika Politik Lokal

Funco Tanipu, Founder The Gorontalo Institute, Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo

KOMPARASI.ID – Dinamika politik lokal semakin terasa, dan salah satu tokoh yang menarik perhatian adalah Fadel Muhammad (FM), mantan Gubernur Gorontalo yang baru saja terpilih kembali sebagai anggota DPD RI.

Funco Tanipu, Founder The Gorontalo Institute, mengungkapkan bahwa tujuan sejati FM sebenarnya adalah untuk menjadi “king maker”.

Namun, FM tampak lupa bahwa dirinya bukanlah bagian dari sebuah partai politik.

Dalam upayanya mencapai tujuan tersebut, dia tampak mengabaikan fakta bahwa setiap partai memiliki hak dan hak istimewa tersendiri, serta dinamika internal dan prosedur Pilkada yang tengah mereka jalani.

Meskipun FM memiliki hubungan dengan elit partai di tingkat nasional, penting untuk tetap memperhatikan etika politik, bukan hanya mengambil langkah-langkah yang melawan arus, tetapi juga menghargai elit partai di tingkat lokal.

Baca Juga :  Pasangan IRIS Perkuat Dukungan Warga Suwawa Jelang Pilkada Bone Bolango 2024

Menurut Funco, langkah pertama dalam rekrutmen calon kepala daerah adalah dengan mengembangkan model rekrutmen yang demokratis.

Beberapa partai politik seperti Golkar membentuk tim lima untuk mengawal proses rekrutmen, Nasdem membentuk tim seleksi internal, PKB membentuk Lembaga Pemenangan Pemilu/Pilkada, dan Demokrat membentuk Desk Pilkada.

Model rekrutmen yang terbuka ini tidak hanya berlaku bagi partai-partai besar, tetapi harus diterapkan oleh semua partai politik.

Dengan demikian, transparansi dalam rekrutmen calon kepala daerah harus diutamakan.

Model rekrutmen yang transparan dan demokratis akan memungkinkan masyarakat untuk terlibat langsung dalam menentukan calon yang mereka inginkan, bahkan bagi kandidat independen yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun.

Baca Juga :  Ketua DPC PDIP Temui Ketua DPD II Golkar Bahas Pencalonan Andi Ilham di Pilwako Gorontalo

Dengan mendorong partai-partai politik untuk mengadopsi model rekrutmen terbuka, kita dapat memastikan bahwa proses politik menjadi lebih inklusif dan mewakili keinginan serta kepentingan masyarakat secara lebih baik.

Ini juga akan mengurangi potensi konflik dan ketegangan politik, karena keputusan yang diambil akan didasarkan pada konsensus dan partisipasi yang luas.

Upaya dan model partai-partai tersebut mesti diapresiasi setinggi-tingginya sehingga warga pun bisa terlibat secara aktif dalam mengajukan calon yang mereka inginkan, khususnya bagi kandidat yang tidak berpartai.

Tentu saja, model rekrutmen terbuka ini diharapkan bisa diselenggarakan oleh semua partai politik, sehingga transparansi rekrutmen bisa dijamin dan pada muaranya mutu demokrasi bisa terus dijaga dan dirawat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *