KOMPARASI.ID – Aula lantai satu Universitas Ichsan (Unisan) Gorontalo pada Jumat siang berubah menjadi ruang belajar yang berbeda dari biasanya.
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi untuk pertama kalinya menghadirkan jurnalis Majalah Tempo sebagai pemateri pelatihan jurnalisme investigasi, sebuah format pelatihan yang belum pernah disentuh mahasiswa kampus tersebut.
Pelatihan yang dimulai pukul 14.00 WITA diikuti 34 peserta. Mereka duduk membentuk huruf U, bukan bersaf seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya.
Model ini dipilih agar percakapan lebih cair, ruang diskusi tercipta, dan mahasiswa tidak kembali tenggelam dalam layar gawai.
Kehadiran peserta didominasi oleh mahasiswa angkatan 2024–2025 atau semester awal, ditambah dua jurnalis lokal.
Di depan mereka, duduk Budi Nurgianto jurnalis Tempo yang telah berkarier sejak 2008 sekaligus penerima sejumlah beasiswa liputan dan internews.
Materi yang ia sampaikan bukan materi ringan. Selama ini, Budi mempelajari teknik investigasi melalui proses belajar intens selama dua bulan.
Dalam pelatihan kali ini, seluruh pengalaman tersebut ia padatkan menjadi dua jam pembelajaran.
Wakil Rektor III Unisan Gorontalo, Kingdom Makkulawuzar, membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya mahasiswa menggunakan tulisan sebagai alat kritik.
Ia mengingatkan bahwa Jurnalisme investigasi merupakan jalan yang lebih tajam ketimbang aksi massa.
Mahasiswa lebih baik menggunakan tulisannya, baik dari hasil investigasi atau apa pun itu, dibandingkan mengumpulkan orang-orang untuk aksi demonstrasi.
“Satu bahkan dua orang saja dengan pola investigasi, tulisannya akan lebih kritis.”
Memulai materinya, Budi memantik peserta dengan pertanyaan sederhana, siapa yang pernah menulis opini?
Dari situ ia menjelaskan pengalamannya saat mengajar penulisan kreatif. Ia pernah mengajar mata kuliah penulisan kreatif, dan memberi tugas kuliah baik itu opini, puisi dan lainnya, setelah itu tulisan-tulisan itu, akhirnya dikemas dalam buku dan diterbitkan.
“Tugas itu berhasil menghadirkan dua buku,” tutur Budi.

Budi ingin peserta merasakan hal serupa, bahwa tulisan dapat mengubah banyak hal, termasuk membuka fakta yang tidak terlihat.
Baginya, jurnalisme investigasi adalah mahzab jurnalis, lebih sulit, dan kompleks dalam kerja jurnalistik.
“Jurnalisme investigasi adalah mahzab jurnalis paling tinggi, paling sulit, dan paling kompleks,” tuturnya.
“Tidak semua orang yang berprofesi sebagai jurnalis bisa melakukan jurnalisme investigasi, dan tidak semua.”tegas Budi.
Investigasi, lanjutnya, membutuhkan kegigihan, banyak membaca, membangun jejaring, serta keberanian membuka percakapan.
Secara sederhana ia menyebut investigasi sebagai upaya mengungkap hal-hal yang tidak diketahui publik.
Dari obrolan warung kopi hingga dokumen resmi, semua bisa menjadi pintu masuk liputan.
Tempo, katanya, pernah mengungkap fasilitas mewah narapidana korupsi di Sulawesi hanya berawal dari percakapan ringan di sebuah kedai kopi.
Dalam liputan investigasi, Budi menekankan pentingnya membangun hipotesis awal, dugaan yang akan diuji dengan data.
Ia memberi contoh sederhana, untuk menelusuri dugaan korupsi, jurnalis bisa mulai dari mengamati gaya hidup, fasilitas yang digunakan, hingga percakapan-percakapan kecil di luar rapat resmi.
Hipotesis itulah yang kemudian berkembang menjadi rencana liputan lengkap, baik itu outline pertanyaan, daftar narasumber, pemetaan dokumen, dan strategi penelusuran.
Dalam proses tersebut, penulis harus menghindari pertanyaan “apa”, dan lebih banyak bertanya “bagaimana” serta “mengapa”, agar narasumber membuka informasi lebih dalam.
Investigasi, tegasnya, harus berangkat dari kepentingan publik, bukan sekadar sensasi.
Memahami Batas Investigasi
Budi juga menjelaskan bahwa tidak semua kasus dapat langsung disebut investigasi.
Ia mencontohkan peristiwa kekerasan seksual. Jika peristiwanya diketahui banyak orang, itu bukan investigasi.

Namun jika ada unsur tersembunyi misalnya kasus itu dijadikan alat pemerasan dan belum diketahui publik barulah itu dapat menjadi materi investigasi.
“Investigasi adalah mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi,” jelasnya.
Dasar investigasi adalah tudingan yang harus dibuktikan. Jika seorang bernama A dituding memberi suap kepada kepala daerah, maka tugas jurnalis adalah membuktikannya dengan data, bukan sekadar asumsi.
Jejak Data, Jejak Uang, Jejak Orang Dalam memetakan arah liputan, Budi menjelaskan tiga jalur utama investigasi:
- people trail,
- money trail, dan
- document trail.
Ketiganya menjadi pondasi untuk merangkai fakta dan mengonfirmasi kebenaran.
Lanjut Budi, Sumber ide bisa muncul dari mana saja, jurnal, laporan media, kajian ilmiah, hingga percakapan santai di warung kopi.
Ketua HMJ Ilmu Komunikasi, Gias Sarindate, menilai pelatihan ini krusial untuk mahasiswa jurnalistik.
Menurutnya, mahasiswa komunikasi baik konsentrasi hubungan masyarakat maupun jurnalistik perlu memahami bagaimana liputan yang mempertaruhkan integritas dilakukan oleh jurnalis lapangan.
“Pelatihan ini penting karena mahasiswa jurnalistik adalah calon jurnalis masa depan,” ujarnya.














