Penulis : Budhy Nurgianto
Executive Director of Matahati Foundation
KOMPARASI.ID – Satu waktu, seorang kawan wartawan di Gorontalo mengirimkan satu tautan artikel tentang siklus kepemimpinan elit politik Gorontalo di tingkat nasional yang ditulis Funco Tanipu-Founder The Gorontalo dan Dosen Universitas Negeri Gorontalo. Saya diminta untuk meresponnya atau minimal bisa menambah satu perspektif yang berhubungan dengan isu regenerasi elit politik Gorontalo.
Awalnya saya belum langsung mengiyakan permintaan kawan baik ini, karena saat saya menerima tautan artikel itu, saya sedang menempuh perjalanan dari Manado menuju Gorontalo. Tetapi karena judulnya yang provokatif, rasa penasaran pun mengalahkan rasa kantuk selama perjalanan. Saya lalu membaca tulisan itu dengan perlahan sambil menikmati pemandangan bentangan pesisir Utara Sulawesi yang tenang.
Secara pribadi, saya memandang apa yang ditulis Funco sebenarnya bisa dimaknai sebagai satu bentuk kekhawatiran yang serius terkait regenerasi elit politik Gorontalo di tingkat nasional, dan itu hal wajar sebagai orang asli Gorontalo. Funco melihat pasca meninggalnya sosok Rahcmat Gobel-mantan menteri dan wakil ketua DPR RI- Gorontalo seperti semakin kekurangan elit politik yang memiliki pengaruh di tingkat nasional.
Kalaupun ada, cenderung tidak berbanding lurus dengan pembangunan daerah. Gorontalo tetap menghadapi kemiskinan, ketergantungan fiskal, rendahnya investasi, kualitas SDM, dan keterbatasan lapangan kerja.
Sebenarnya secara konseptual, berbicara tentang regenerasi elit politik Gorontalo sama halnya dengan kita berbicara tentang bagaimana daerah ini merancang sistem politik untuk melahirkan pemimpin yang minimal memiliki pengaruh di tingkat nasional. Bisa dibilang, wacana regenerasi elit politik bukanlah sekadar wacana pergantian individu semata, melainkan langkahnya mengarah pada sistem yang mendukung kemampuan, kejujuran, dan kekuatan pemimpin.
Kita semua tentu sudah tahu, dalam sistem pemerintahan terpusat atau otonomi seperti saat ini, setiap daerah tentu membutuhkan tuas politik untuk memperjuangkan kepentingan mereka di tingkat pusat. Singkatnya, kekuasaan politik di pusat adalah “kunci penggerak” agar kebutuhan warga daerah tidak tenggelam oleh kepentingan besar Jakarta. Karena itulah, Gorontalo yang memiliki historis, tingkat sumber daya manusia yang cukup, serta modal sosial yang bagus tentu harus tetap mampu memberikan pengaruhnya secara nasional.
Agenda menata kepemimpinan elit politik Gorontalo di tingkat nasional memang menjadi sangatlah penting dan dibutuhkan saat ini, dan secara pribadi, saya memandang proses regenerasi ini mesti menjadi agenda bersama, yang melibatkan partai politik, kampus, organisasi masyarakat, dan kelompok anak muda.
Jika ini bisa dilakukan, rasa cemas seperti yang dibicarakan oleh Bang Funco pasti tak akan terjadi dan Gorontalo akan terus memiliki kesempatan besar untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan pengaruh politik di tingkat nasional.
Dalam konsep sirkulasi elit yang dikembangan Vilfredo Pareto-ekonom dan sosiologi asal Italia, apabila suatu daerah gagal melahirkan generasi elite baru, maka pengaruh politiknya tentu akan menurun. Jika itu terjadi, daerah tersebut tentu akan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan eksistensinya dalam arena politik nasional.
Akibatnya, kapasitas daerah dalam memperjuangkan kepentingan pembangunan akan menurun, tidak lagi memperoleh dukungan kebijakan, serta mengakses sumber daya dari pemerintah pusat.
Saat ini, tantangan terbesar regenerasi elit politik Gorontalo di tingkat nasional adalah masih kuatnya ketergantungan terhadap figur tertentu. Proses kaderisasi elit politik Gorontalo di tingkat nasional hanya berorientasi pada menjaga dominasi kelompok tertentu.
Politik lokal masih sering kali berpusat pada nama-nama yang telah memiliki pengaruh secara sosial, ekonomi, maupun jaringan politik yang luas. Sebagian besar partai politik bahkan belum membangun mekanisme kaderisasi yang konsisten, transparan, dan berbasis merit. Bahkan pendekatan hubungan kekeluargaan, kedekatan personal, dan patron-klien masih memiliki pengaruh besar dalam proses rekrutmen politik.
Situasi realitas politik Gorontalo itulah yang kemudian membuat proses regenerasi elit politik Gorontalo tersebut masih belum berlangsung secara optimal. Regenerasi elit politik yang seharusnya menjadi proses berkelanjutan dalam menyiapkan pemimpin baru justru sering kali bergantung pada momentum elektoral dan kehendak elite yang telah mapan.
Akibatnya, ruang kompetisi politik menjadi kurang terbuka bagi figur-figur muda yang memiliki kapasitas, integritas, dan gagasan baru. Artinya keberhasilan regenerasi elit politik Gorontalo saat ini bisa dibilang ditentukan oleh faktor seperti, kemampuan aktor-aktor politik dan kelembagaan partai dalam membangun sistem kaderisasi yang terbuka, berbasis merit, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Dengan demikian, proses regenerasi elit politik Gorontalo yang baik adalah tidak hanya sekedar memastikan kepemimpinan berlanjut, tapi juga membuka peluang untuk munculnya pemimpin baru. Pemimpin baru itu harus punya kemampuan, integritas, serta siap hadapi perubahan sosial, ekonomi, dan politik di daerah.
Menata kepemimpinan politik Gorontalo di tingkat nasional sekali lagi bukan semata-mata sekadar persoalan siapa yang menggantikan siapa pada tingkat nasional, akan tetapi lebih dari itu, minimal bisa menciptakan sistem politik yang bisa melahirkan elit dengan kemampuan yang mumpuni, dan pada titik ini-Gorontalo pasti bisa. (***)







Leave a Reply