Mardiono: Perbedaan Politik Jangan Berakhir di Pengadilan

KOMPARASI.ID – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Mardiono menyampaikan pesan politik tentang pentingnya merawat demokrasi saat melantik pengurus Dewan Pimpinan Wilayah PPP Provinsi Gorontalo di Graha Aziza, Kota Gorontalo, Selasa, (10/3/2026).

Acara pelantikan itu dihadiri Gubernur Gorontalo serta perwakilan sejumlah partai politik, antara lain Demokrat, NasDem, PDIP, PAN, dan PKS.

Dalam sambutannya, Mardiono menilai kehadiran para tokoh lintas partai dalam pelantikan tersebut mencerminkan wajah demokrasi Indonesia yang sehat.

“Inilah indahnya demokrasi di Republik Indonesia. Walaupun gubernurnya dari partai berbeda, yang dilantik juga dari partai berbeda, tetapi tetap hadir memberi semangat,” kata Mardiono.

Ia mengingatkan pengurus PPP yang baru dilantik agar tidak pasif dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat. Para kader diminta aktif berkolaborasi dengan pemerintah daerah, ulama, dan tokoh masyarakat untuk mendorong kesejahteraan rakyat.

Baca Juga :  Kaesang Berlutut Hampiri Megawati di Pengundian Nomor Urut Calon Presiden

Menurut Mardiono, demokrasi yang sehat justru lahir dari keberagaman pandangan politik.

“Demokrasi itu indah. Hari ini kita lihat sendiri, ada dari Demokrat, PKS, PDIP, dan partai lain berkumpul di sini. Kita berbeda partai, tetapi tujuannya sama,” ujarnya.

Ia menyebut perbedaan merupakan habitat alami dalam dunia politik. Dalam sistem demokrasi, kata dia, kekuasaan tidak boleh didominasi satu kekuatan politik. Karena itu sistem multipartai menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan demokrasi.

Namun, perbedaan politik tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Baca Juga :  Operasi Damai Cartenz 2024, Sat Brimob Polda Gorontalo berangkatkan 110 Personel Ke Papua

“Perbedaan bukan berarti bermusuhan. Perbedaan juga tidak boleh berakhir di pengadilan. Kalau itu terjadi, berarti ada yang salah dalam demokrasi kita,” kata dia.

Mardiono mengibaratkan politik seperti pertandingan tinju. Para petinju saling memukul di dalam ring, tetapi setelah pertandingan usai mereka kembali bersikap normal.

“Politisi harus seperti petinju. Di dalam ring saling pukul, tapi di luar ring kembali bersaudara. Adu gagasan itu tempatnya di parlemen,” ujarnya.

Ia juga menyinggung maraknya perdebatan di media sosial yang kerap berujung pada saling serang terhadap kebijakan negara maupun pemimpin.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan delegitimasi terhadap kepemimpinan nasional.

Karena itu, Mardiono meminta para kader PPP ikut menjaga kualitas demokrasi dengan mengedepankan gagasan dan argumentasi yang konstruktif.

Baca Juga :  Bapaslon AIR Deklarasi Maju di Pilwakot Gorontalo Didukung Lima Partai

Meski saat ini PPP tidak berada dalam posisi dominan secara politik, ia menegaskan partainya tetap berkomitmen hadir di tengah masyarakat.

“PPP mungkin sedang berada di titik bawah, tetapi kami tidak pernah berhenti menegaskan jati diri. Kader harus tetap hadir bersama rakyat,” kata dia.

Partai yang berdiri sejak 1973 itu kini telah berusia 53 tahun. Mardiono berharap kader PPP terus menjadi pelopor di masyarakat, termasuk menyosialisasikan program pemerintah serta menyuarakan gagasan kritis yang berpihak pada rakyat.

“Kalau ingin terus dicintai rakyat, kader harus selalu hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.