KOMPARASI.ID – Produk pertanian, olahan pangan, kerajinan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis syariah dari sejumlah pesantren di Gorontalo dipamerkan dalam Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan.
Pameran tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan potensi ekonomi pesantren sekaligus mendorong kemandirian usaha masyarakat berbasis ekonomi syariah.
Kegiatan ini melibatkan Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (HEBITREN) Provinsi Gorontalo yang bekerja sama dengan Bank Indonesia. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bone Bolango turut mendukung kegiatan tersebut.
Ketua BAZNAS Bone Bolango sekaligus Ketua Dewan Pembina HEBITREN Provinsi Gorontalo, Faisal Pakaya, mengatakan pengembangan ekonomi pesantren membutuhkan kolaborasi antara lembaga, pemerintah, dan pelaku usaha.
“Melalui kolaborasi yang kuat antara BAZNAS, HEBITREN, Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder, kita berharap ekonomi syariah di Gorontalo terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Faisal, Minggu (21/6/2026).
Produk pesantren masuk arena pameran
Dalam arena PENAS XVII, HEBITREN bersama Bank Indonesia menghadirkan stan yang menampilkan berbagai produk dari pesantren dan kelompok binaan.
Produk yang dipamerkan antara lain hasil pertanian organik, olahan pangan, kerajinan tangan, serta berbagai produk UMKM berbasis syariah.
Selain produk, stan tersebut juga memperkenalkan layanan Koperasi Syariah HEBITREN “Ma’ahid” yang merupakan binaan Bank Indonesia.
Kehadiran produk-produk tersebut menjadi ruang bagi pesantren dan kelompok usaha binaan untuk memperkenalkan produk sekaligus melihat peluang pasar yang lebih luas.
Antusiasme pengunjung terlihat selama kegiatan berlangsung. Masyarakat dapat melihat langsung produk yang dihasilkan pesantren sekaligus memperoleh informasi mengenai ekonomi dan keuangan syariah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bone Bolango Iwan Mustapa turut mengunjungi stan tersebut dan melihat sejumlah produk unggulan yang dipamerkan.
PESONA dorong digitalisasi UMKM
Selain PENAS XVII, HEBITREN juga terlibat dalam Pekan Ekonomi Syariah Gorontalo (PESONA) 2026.
Faisal mengatakan PESONA merupakan agenda yang digelar Bank Indonesia untuk meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah di masyarakat.
Tahun ini, PESONA mengusung tema “Sinergi Akselerasi Digitalisasi Gorontalo (SERLIGO)”.
Menurut Faisal, tema tersebut diarahkan untuk mendorong transformasi digital pelaku UMKM dan usaha daerah sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi syariah.
“Tahun ini, PESONA mengusung tema ‘Sinergi Akselerasi Digitalisasi Gorontalo (SERLIGO)’. Tujuannya sangat jelas, yaitu mempercepat transformasi digital bagi UMKM dan pelaku usaha daerah, serta membangun ekosistem ekonomi syariah yang semakin kuat dan berdaya saing,” kata Faisal.
Pada pembukaan PESONA 2026 di Taman Budaya Limboto, Jumat malam (19/6/2026), Faisal turut terlibat dalam prosesi pembukaan sebagai pembaca doa.
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Gubernur Gorontalo dan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah daerah, perwakilan Bank Indonesia, Forkopimda, perguruan tinggi, serta perwakilan pesantren se-Gorontalo.
Pesantren didorong semakin mandiri
HEBITREN merupakan organisasi yang menghimpun pesantren dan unit usaha pesantren untuk memperkuat kapasitas ekonomi, kemandirian usaha, serta pengembangan produk unggulan berbasis syariah.
Kolaborasi dengan berbagai pihak diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi pesantren, bukan hanya dalam pengembangan produk, tetapi juga pemasaran, digitalisasi, dan penguatan kelembagaan usaha.
BAZNAS Bone Bolango menilai penguatan ekonomi pesantren dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui sinergi antara lembaga zakat, pesantren, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha, produk-produk berbasis ekonomi syariah diharapkan dapat berkembang menjadi usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
**Cek berita dan artikel terbaru Komparasi.id dengan mengikuti WhatsApp Channel









Leave a Reply