KOMPARASI.ID – Calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo berjanji untuk memberantas korupsi tanpa berkompromi, seperti yang diungkapkannya dalam debat pertama Pilpres 2024 di Kantor KPU, Jakarta, pada Selasa (12/12).
Dalam pidatonya, Ganjar juga memperkenalkan Mahfud MD sebagai calon wakil presiden (cawapres) pendampingnya. Ia menilai Mahfud telah berhasil mengatasi permasalahan korupsi selama berada di pemerintahan.
Berikut adalah pernyataan lengkap Ganjar dalam debat perdana Pilpres 2024:
Saya dan Pak Mahfud telah memulai perjalanan kami sejak pembukaan kampanye dari ujung timur Indonesia hingga Barat, dari Sabang hingga Merauke. Kami hanya ingin mendengarkan dan melihat langsung apa yang disampaikan dan dirasakan oleh rakyat.
Hal ini sangat penting agar harapan-harapan tersebut dapat menjadi fokus pemimpin, baik dalam pemikiran, perkataan, maupun perbuatan. Ini adalah aspek yang sangat krusial.
Selama perjalanan kami, di Merauke, kami bertemu dengan seorang pendeta bernama Pak Leo. Beliau harus membantu seorang ibu yang ingin melahirkan karena tidak tersedianya fasilitas kesehatan.
Beliau belajar dari Youtube mengenai hak kesehatan yang seharusnya dapat diakses dengan mudah. Oleh karena itu, kami berjanji kepada Pendeta Leo bahwa kami akan membangun fasilitas tersebut dan akan menggerakkan seluruh Indonesia untuk mendukung program satu desa, satu puskesmas atau posko dengan satu tenaga kesehatan yang bertanggung jawab.
Pak Mahfud juga menyampaikan pesan kepada para guru di Aceh dan Sabang, yang menjadi fokus kami. Kami ingin membangun Indonesia yang unggul dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Namun, apakah kita sudah cukup memberikan perhatian kepada mereka? Kemajuan yang telah dicapai harus dipercepat, dan kami akan memberikan perhatian ekstra kepada nasib para guru, termasuk guru agama.
Kami akan memberikan insentif kepada mereka agar dapat mengajarkan budi pekerti yang luhur dengan pendekatan moderasi agama.
Namun, cerita ini belum selesai. Ketika kami berada di NTT, kami bertemu dengan masyarakat setempat. Seorang anak muda bertanya, “Pak Ganjar, mengapa kami, anak muda, kesulitan mendapatkan akses pekerjaan, padahal itu adalah hak kami? Mengapa kami menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses internet, padahal kami butuh untuk belajar, tidak seperti di Jawa?” Pertanyaan ini menjadi catatan penting bagi kami, dan kami berkomitmen untuk menyediakan internet gratis bagi para siswa agar mereka dapat memiliki kesempatan yang setara dengan yang ada di Jawa.


