Hamzah Idrus di PESONA TAMETO: UMKM Butuh Fondasi yang Adil, Syariah Jawabannya

KOMPARASI.ID Taman Budaya Limboto sore itu ramai tak biasa. Ratusan pengunjung menyemut di depan panggung utama menyaksikan pembukaan Pekan Ekonomi Syariah Gorontalo dan Festival Ekonomi Keuangan Digital (PESONA TAMETO) 2025, Jumat (23/5).

Acara ini menggabungkan nuansa tradisi, inovasi digital, dan narasi ekonomi berbasis syariah.

Mewakili Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Hamzah Idrus anggota Komisi II, hadir memberikan sambutan.

Ia menekankan pentingnya menjadikan ekonomi syariah sebagai landasan tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Gorontalo.

Baca Juga :  SDN 13 Tolinggula Nyaris Sepi Wakil Ketua 1 DPRD Provinsi Gorontalo Soroti Akses Pendidikan

“Pesona Tameto bukan seremonial semata. Ini adalah tonggak awal membangun kesadaran kolektif bahwa ekonomi syariah bisa menjadi jalan alternatif yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat,” kata Hamzah kepada wartawan usai pembukaan acara.

Bagi Hamzah, prinsip ekonomi syariah yang menekankan keadilan, transparansi, dan keberkahan sangat relevan diterapkan di Gorontalo, terutama untuk generasi muda yang kini tumbuh dalam ekosistem digital.

Baca Juga :  Semarak HUT ke-25 Provinsi Gorontalo, Ketua DPRD Thomas Mopili Hadiri Gelaran Baksos dan Hiburan Rakyat di Bone Bolango

Ia menyebut, ekonomi digital tak harus menjauh dari nilai-nilai lokal dan religius, tetapi bisa disinergikan melalui pendekatan syariah.

Ia menambahkan bahwa UMKM Gorontalo harus mulai diarahkan pada skema pembiayaan dan model bisnis yang berbasis prinsip syariah.

Ini dinilai bukan hanya soal spiritualitas, tetapi juga strategi pemberdayaan ekonomi yang lebih merata.

“Dengan ekosistem yang terbangun dari sekarang, kita bisa menjadikan Gorontalo sebagai pusat ekonomi syariah digital di kawasan timur Indonesia,” ujar Hamzah.

Baca Juga :  Adhan Dambea Minta Masyarakat Manfaatkan Pemilu 2024, Mengubah Nasib Gorontalo Lebih Baik

Pesona Tameto 2025 tidak hanya menghadirkan talkshow, bazar UMKM, dan pameran digital, tapi juga dialog lintas sektor yang melibatkan pelaku usaha, akademisi, pemerintah daerah, hingga otoritas keuangan seperti Bank Indonesia.

Acara ini diharapkan menjadi ruang sinergi konkret untuk mendorong arah baru pembangunan ekonomi daerah.