Save 20% off! Join our newsletter and get 20% off right away!

Menggagas 100 Tahun Gorontalo

Oleh : Budhy Nurgianto
Tinggal di Kabila, Bone Bolango

KOMPARASI.ID Saat sedang mengisi diskusi soal masa depan Halmahera di 2040, saya mendapatkan kiriman satu link zoom diskusi yang temanya cukup apik yaitu Gorontalo Strategic Dialogue, sebuah program diskusi yang digagas The Gorontalo Institute. Diskusi ini membicarakan bagaimana menginisiasi Gorontalo di tahun ke 100 dengan membaca ulang makna Hari Patriotik 23 Januari 1942—bukan sebagai peristiwa yang beku di masa lalu, melainkan sebagai energi ideologis yang relevan dengan tantangan hari ini dan visi besar 100 Tahun Gorontalo pada 2042. Dengan waktu yang tersisa hanya 16 tahun, dialog ini mengajak publik Gorontalo berpikir lebih jernih, berani, dan terarah tentang masa depan yang ingin dibangun bersama.

Saya pribadi sangat menyukai tema diskusi ini, teman-teman The Gorontalo Institute- yang sebagian besar saya mengenalnya- sudah bisa berpikir bagaimana menjadikan Gorontalo sebagai ‘laboratorium ide yang progresif’ pada usia 100 tahun. Diskusi ini membuktikan bahwa intelektual, politikus, pengusaha, birokrat, dan pemuda di Gorontalo memiliki gagasan dalam memajukan daerah mereka, dan merumuskan kebijakan untuk menghadapi tantangan disrupsi di masa depan sambil tetap berakar pada budaya lokal.

Masa depan sebuah daerah memang sudah seharusnya direncanakan hari ini agar dapat dinikmati dan berfungsi dengan baik untuk generasi mendatang, bahkan untuk 100-200 tahun ke depan. Narasi 100 tahun untuk Gorontalo dapat dijadikan sebagai refleksi kolektif dari perjalanan panjang, sekaligus menegaskan arah yang diinginkan untuk masa depan, terutama dalam merumuskan strategi pembangunan yang kuat. Visi 100 tahun Gorontalo bisa menjadi upaya kolektif untuk memastikan bahwa kemajuan tidak menghapus identitas, dan modernitas tidak memutus tali pusar ke masa lalu.

Baca Juga :  HMI Gorontalo Kepung DPRD Tolak RUU Polri dan Desak Cabut UU TNI

Kita semua pasti tahu, Gorontalo bukan sekedar sebuah provinsi baru, namun sudah dikenal oleh para ahli sebagai daerah yang sarat akan sejarah, budaya, serta pusat peradaban pada ratusan tahun yang lalu. Sejarah Gorontalo tidak dimulai dari tanggal pembentukan daerah menjadi provinsi semata, akan tetapi lebih dari itu, Gorontalo merupakan pusat dari salah satu dari kerajaan besar yang ada dijalur perdagangan serta persinggahan utama di wilayah Sulawesi Utara dan Teluk Tomini. Gorontalo mempunyai sejarah peradaban Islam di nusantara yang telah ada sejak abad ke 15 dan 16 dan menjadi jalur perdagangan serta penyebaran agama Islam.

Proses panjang tentang sejarah Gorontalo dari kerajaan, kolonial hingga provinsi- mengajarkan kepada kita bahwa daerah ini mempunyai kekuatan budaya dan ketahanan serta nilai adaptasi dari masyarakatnya. Jika dihubungkan dengan konteks modern, kekuatan ini menjadi pondasi kuat untuk Gorontalo dalam menyusun narasi visi besar 100 tahun ke depan. Dengan kata lain, visi 100 tahun Gorontalo saat ini tidak cukup sekedar menjadi daerah yang berkembang, tetapi harus bisa berkembang secara berkelanjutan yaitu semangat pendekatan pembangunan yang memberi manfaat pada kehidupan masyarakat serta tidak mengorbankan kemampuan generasi mendatang.

Baca Juga :  Ramadan Momentum Meningkatkan Disiplin, Produktivitas, dan Kepedulian

Dalam banyak hal, Gorontalo harus dapat tumbuh dengan kesadaran penuh terhadap kesadaran budaya sosial dan lingkungan yang mendukung orang-orang di sekitarnya. Pembangunan di daerah ini tidak boleh hanya fokus pada pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Sumber daya alam di Gorontalo yang membentang dari laut, pantai, dan hutan hingga lahan pertanian harus dikelola sebagai warisan untuk generasi mendatang dan bukan sebagai objek untuk eksploitasi jangka pendek.

Pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan perlindungan lingkungan, pengurangan ketidaksetaraan, dan nilai tambah yang adil secara ekologis. Pembangunan ekonomi harus menggabungkan kearifan lokal seperti dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan industri kreatif berbasis budaya, di mana pasar lokal dan global terhubung. Gorontalo harus mempertahankan budayanya yang khas. Sistem pohala’a, yang merupakan sistem kekerabatan tradisional yang membentuk dasar struktur sosial masyarakat Gorontalo sejak era kerajaan, seharusnya menjadi simbol solidaritas dan kerjasama yang saling menguntungkan.

Gorontalo di masa depan diharapkan menjadi pelopor desain provinsi tangguh, dengan konsep perencanaan yang tidak mengutamakan keindahan atau efisiensi, tetapi lebih pada kemampuan daerah untuk bertahan (absorb), pulih (recover), dan beradaptasi (adapt) terhadap berbagai guncangan (shocks) dan tekanan (stresses). Dengan memanfaatkan potensi alamnya secara bertanggung jawab, Dengan memanfaatkan potensi alam secara bertanggung jawab, Gorontalo bisa menjadi model pembangunan hijau di Indonesia Timur.

Pengembangan infrastrukturnya harus diarahkan pada konsep berbasis alam (nature-based solution) yaitu pendekatan pengembangan infrastruktur yang menggunakan, meniru dan memperkuat fungsi ekosistem alami untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan tantangan pembangunan secara berkelanjutan, adaptif, dan efisien biaya dalam jangka panjang. Ketergantungan pada sektor primer tanpa nilai tambah, perencanaan ruang yang abai pada daya dukung lingkungan, serta kebijakan yang tidak sensitif terhadap ketimpangan sosial sudah sepatutnya ditinggalkan.

Baca Juga :  Mangrove Gorontalo di Titik Kritis: Terjepit Ekspansi Tambak Ilegal, Merkuri, dan Industri Biomassa

Selama seperempat abad ini, capaian pembangunan di Gorontalo sudah menjadi bukti nyata bahwa provinsi ini bukan sekadar wilayah administratif yang terpinggirkan, tetapi sudah menjadi sebuah entitas yang berkembang secara signifikan di berbagai sektor. Itulah mengapa kedepan, pengembangan Gorontalo dalam narasi visi 100 tahun harus menempatkan manusia, alam, dan budaya di jantung inisiatifnya. Ini penting agar memastikan Gorontalo tidak terperangkap dalam pembangunan jangka pendek sekaligus bertujuan untuk memastikan bahwa kemajuan yang dicapai hari ini adalah warisan berarti untuk generasi mendatang dalam waktu 100 tahun.

Di titik inilah, gagasan 100 tahun Gorontalo sudah seharusnya menjadi narasi rumusan arah pembangunan yang berpijak pada keberlanjutan, ketahanan, serta jati diri budaya. Dengan mempertimbangkan perjalanan panjang Gorontalo, visi 100 tahun pada akhirnya adalah tentang pilihan peradaban. Apakah Gorontalo ingin tumbuh cepat namun rapuh, atau tumbuh berkesinambungan dengan fondasi sosial, budaya, dan ekologis yang kokoh, atau sekedar tumbuh seadanya. Pilihan ini harus dijawab hari ini, karena waktu tidak pernah benar-benar menunggu. (***)