John Tobing, Pencipta “Darah Juang” dan Aktivis 98, Wafat di Yogyakarta

Keterangan: john-tobing aktivis 98 (sumber : youtube ade tanesia)
Keterangan: john-tobing aktivis 98 (sumber : youtube ade tanesia)

KOMPARASI.ID Kabar duka datang dari Yogyakarta, kota yang pernah menjadi simpul perlawanan mahasiswa terhadap Orde Baru.

Johnsony Maharsak Lumban Tobing aktivis gerakan mahasiswa 1998 sekaligus pencipta lagu “Darah Juang” tutup usia pada Rabu (25/2/2026) pukul 20.45 WIB di RSA UGM, setelah beberapa waktu berjuang melawan stroke.

Nama John Tobing demikian ia akrab disapa melekat dalam ingatan generasi reformasi. “Darah Juang” bukan sekadar lagu, melainkan himne yang menandai denyut perlawanan mahasiswa di penghujung kekuasaan Orde Baru.

Liriknya kerap menggema dalam mimbar bebas, long march, hingga aksi-aksi solidaritas lintas kampus yang menuntut perubahan.

Kepergian John menjadi kehilangan bagi jejaring aktivis yang pernah merasakan kerasnya tekanan negara pada 1990-an.

Ucapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan, termasuk Ganjar Pranowo. Ia melayat ke RS Bethesda Yogyakarta, tempat jenazah John disemayamkan, dan mengenang seniornya semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Baca Juga :  Harga Emas Naik, Tapi Goyang: Lebih Aman Emas Fisik atau Emas Crypto?

“Dia setahun di atas saya di UGM. Saya banyak belajar dari dia. Dia tokoh yang hebat,” ujar Ganjar, Kamis (26/2/2026). Dilansir dari TvoneNews.com

John merupakan alumni Fakultas Filsafat UGM angkatan 1986. Sementara Ganjar tercatat sebagai alumni Fakultas Hukum UGM angkatan 1987.

Bagi Ganjar, warisan paling penting dari John adalah keberanian membela rakyat tanpa rasa takut. “Di era itu situasinya mengerikan karena melawan Orde Baru. Bang John termasuk yang paling berani,” katanya.

Keberanian itu, dalam ingatan banyak orang, menemukan bentuk kulturalnya lewat “Darah Juang”.

Lagu tersebut terus dinyanyikan lintas generasi dari aksi mahasiswa hingga panggung-panggung solidaritas sebagai pengingat bahwa demokrasi tak pernah lahir dari ruang hampa.

Baca Juga :  Perjuangan Udin Akuba, Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Sentral Gorontalo

Duka juga datang dari kalangan aktivis lokal. Baharudin Kamba, aktivis asal Kabupaten Sleman, mengenang John dengan cara berbeda.

Pada Kamis (26/2/2026) dini hari, ia berkeliling membangunkan sahur warga sambil memutar “Darah Juang” melalui pengeras suara portabel.

Dari pukul 03.00 hingga 03.30 WIB, lagu itu diperdengarkan sebagai bentuk penghormatan kepada penciptanya. Malam sebelumnya, Kamba sempat menjenguk John di RSA UGM.

“Semangatnya memperjuangkan keadilan tidak boleh ikut mati,” ujarnya.

Sakit yang Datang Berulang

Salah satu putra John, Gopas Kibar Syang Proudy, mengungkapkan bahwa sang ayah dalam beberapa tahun terakhir berjuang melawan stroke.

Pada 29 November 2025, John dirawat selama dua bulan di RS Panti Rini sebelum kembali ke rumah pada 28 Januari 2026.

Baca Juga :  IPSS Riau Bawa Pesona Budaya Sulawesi Selatan ke Panggung Pacu Jalur 2025

Namun kondisinya kembali menurun. Ia sempat dilarikan ke RS Hermina Yogyakarta pada 8 Februari 2026. Pada 25 Februari, John tak sadarkan diri dan dirujuk ke RSA UGM untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Saat dikabarkan henti jantung, kami sekeluarga sedang di rumah karena bapak dirawat di ICU dan tidak bisa ditunggu,” ujar Gopas.

Kini, jenazah John disemayamkan di Rumah Duka Arimatea RS Bethesda. Ibadah penghiburan dijadwalkan pada Kamis (26/2/2026) dan Jumat (27/2/2026) pukul 18.30 WIB.

Ibadah pemberangkatan akan dilangsungkan Sabtu (28/2/2026) pukul 10.00 WIB. John akan dimakamkan di TPU Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman.

John Tobing telah pergi. Namun bagi banyak orang, “Darah Juang” akan terus dinyanyikan sebagai pengingat bahwa demokrasi pernah diperjuangkan dengan risiko, dan bahwa keberanian selalu menemukan jalannya sendiri dalam sejarah.

Redaktur Komparasi.id