Kasus HIV-AIDS di Gorontalo Capai 1.455, Lonjakan Signifikan Terjadi Sejak 2021

KOMPARASI.ID – Jumlah akumulasi kasus HIV-AIDS di Provinsi Gorontalo sejak 2001 hingga Oktober 2025 tercatat mencapai 1.455 kasus, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.

Dari total tersebut, 850 kasus merupakan HIV dan 605 kasus sudah masuk tahap AIDS.

Data menunjukkan, tren peningkatan kasus terjadi cukup tajam dalam lima tahun terakhir.

Lonjakan paling signifikan mulai terlihat sejak 2021, dengan 114 kasus, kemudian meningkat menjadi 118 kasus pada 2022, dan melonjak menjadi 176 kasus pada 2023.

Puncak tertinggi terjadi pada 2024 dengan 242 kasus, sebelum pada periode Januari–Oktober 2025 tercatat sebanyak 201 kasus baru.

Baca Juga :  Anies dan Cak Imin ke KPU Tampil Ekslusif dengan Mercedes-Benz Sprinter Rp 1,2 Miliar

Jika ditarik ke belakang, kasus HIV-AIDS di Gorontalo pada awal 2000-an tergolong rendah. Pada 2001 hanya ditemukan 1 kasus, dan hingga 2005 jumlahnya masih berada di bawah dua digit per tahun.

Namun, sejak 2010 tren mulai meningkat, dengan 12 kasus, lalu terus bertambah hingga mencapai 82 kasus pada 2018 dan 2019.

Kelompok Pekerjaan Paling Banyak Terdampak. Selain berdasarkan tahun, distribusi kasus juga dipetakan berdasarkan jenis pekerjaan.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan jumlah kasus tertinggi berasal dari kategori tidak diketahui, yakni sebanyak 334 kasus.

Baca Juga :  Ratusan Massa Berpakaian Hitam Lakukan Aksi Protes Lawan Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Gorontalo

Di luar itu, kelompok wiraswasta menempati posisi kedua dengan 235 kasus, disusul oleh mahasiswa/siswa sebanyak 153 kasus, serta pekerja salon atau tata rias (MUA) sebanyak 133 kasus.

Kasus juga cukup tinggi ditemukan pada ibu rumah tangga (IRT) dengan 101 kasus, serta pekerja sektor formal seperti karyawan swasta/BUMN/BUMD sebanyak 76 kasus.

Sementara itu, beberapa kelompok lain seperti sopir (46 kasus), WPS/mucikari (46 kasus), dan PNS/ASN (44 kasus) juga tercatat memiliki angka yang cukup signifikan.

Tantangan Penanganan dan Deteksi
Tingginya angka pada kategori pekerjaan yang tidak diketahui menjadi indikasi masih adanya tantangan dalam pendataan serta pelacakan riwayat pasien.

Baca Juga :  Meta Luncurkan Superintelligence Labs, Gandeng Alexandr Wang dan Tokoh AI Dunia

Selain itu, meningkatnya kasus pada kelompok usia produktif seperti mahasiswa dan pekerja menunjukkan perlunya penguatan edukasi serta upaya pencegahan yang lebih masif.

Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mencatat bahwa tren peningkatan ini tidak hanya dipengaruhi oleh penularan, tetapi juga oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV.

Meski demikian, upaya deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, serta penghapusan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi pekerjaan rumah besar di daerah tersebut.

Lulusan Ilmu Komunikasi konsentrasi jurnalistik ini meniti karier dari dunia penyiaran radio. Ia juga sempat berkarir di media cetak majalah dan surat kabar dengan pengalaman di berbagai media lokal hingga nasional. Perjalanan yang dimulainya sejak tahun 2012 ini membentuknya sebagai jurnalis yang, adaptif, dan berorientasi pada kekuatan narasi.