Film “Pesta Babi”: Saat Tradisi Adat Papua Jadi Benteng Perlawanan

Keterangan Foto : Tradisi pesta babi suku Muyu bukan sekadar ritual adat, tetapi simbol menjaga tanah, sejarah, dan identitas leluhur di tengah perubahan besar di Papua.
Tradisi pesta babi suku Muyu bukan sekadar ritual adat, tetapi simbol menjaga tanah, sejarah, dan identitas leluhur di tengah perubahan besar di Papua.

Di tengah masifnya pembukaan hutan Papua atas nama Proyek Strategi Nasional (PSN), masyarakat adat ternyata tidak selalu melawan dengan senjata, demonstrasi, atau jalur hukum. Di pedalaman Boven Digoel, Papua Selatan, perlawanan justru hadir lewat sesuatu yang tampak sederhana, pesta babi.

Tradisi adat suku Muyu bernama awon atatbon kini bukan lagi sekadar ritual budaya, melainkan simbol mempertahankan identitas, sejarah, dan hak atas tanah leluhur. Itulah pesan utama yang diangkat dalam film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale.

Film berdurasi 96 menit itu menyoroti dampak proyek pangan dan energi nasional yang membuka sekitar 2,5 juta hektare hutan alam di Papua Selatan mulai dari Merauke, Mappi, Asmat, hingga Boven Digoel. Di balik jargon pembangunan dan ketahanan pangan, masyarakat adat menghadapi ancaman hilangnya ruang hidup, hutan adat, hingga identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga :  Gorontalo Banjirpolitan, Peningkatan Banjir dan Tantangan Pelestarian Alam

Salah satu sosok utama dalam dokumenter itu adalah Willem Kimko, kepala adat marga Kimko dari suku Muyu di Distrik Waropko. Jika sebagian masyarakat adat memilih memasang salib merah dan palang adat sebagai simbol penolakan terhadap ekspansi sawit dan proyek biodiesel, Willem memilih menjaga tanah leluhurnya lewat pesta babi.

Bagi orang Muyu, pesta babi bukan sekadar perayaan. Tradisi itu adalah mekanisme sosial untuk menjaga hubungan antarmarga, memperkuat aliansi, sekaligus memastikan generasi muda memahami asal-usul mereka.

“Jangan sampai pendatang merampas hak anak-anak kami karena mereka tidak tahu sejarah dan adatnya,” ujar Willem Kimko dalam salah satu adegan dokumenter.Dilansir dari historia

Di situlah makna perlawanan itu muncul. Saat hutan mulai dibuka dan tanah adat berubah menjadi kawasan industri pangan dan perkebunan, orang Muyu berusaha mempertahankan ingatan kolektif mereka melalui adat.

Baca Juga :  Profil Elia Nusantari Damopolii: Moderator Muda Berbakat di Debat Pilgub Gorontalo 2024

Tradisi atatbon sendiri tidak bisa dilakukan secara instan. Persiapannya bahkan bisa berlangsung bertahun-tahun. Babi yang digunakan harus dipelihara sendiri sejak kecil, dilepas di hutan adat, lalu diburu kembali ketika waktunya tiba. Seluruh prosesnya melibatkan gotong royong, pertukaran hasil adat, hingga ritual yang memperkuat hubungan sosial dalam komunitas.

Bagi masyarakat Muyu, menjaga hutan bukan sekadar soal lingkungan, tetapi tentang menjaga sistem kehidupan mereka sendiri. Hutan adalah sumber pangan, ruang spiritual, hingga bagian dari identitas kolektif.

Film ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat adat Papua memandang ekspansi proyek negara sebagai bentuk kolonialisme modern. Istilah itu muncul karena mereka merasa pembangunan dilakukan tanpa benar-benar melibatkan suara masyarakat adat sebagai pemilik wilayah.

Dalam dokumenter tersebut, sejumlah masyarakat adat dari suku Awyu, Marind, hingga Yei menceritakan bagaimana hutan mereka berubah menjadi perkebunan sawit, tebu, dan kawasan sawah skala besar. Sebagian dari mereka bahkan mengaku mengalami intimidasi dan tekanan saat mempertahankan tanah adat.

Baca Juga :  Polemik Lahan Sawit di Pulubala: Jejak Keterlibatan Pejabat dan Mantan Pejabat

Namun di balik semua itu, Pesta Babi tidak hanya bicara soal konflik agraria. Film ini juga menjadi pengingat bahwa di Papua, adat masih menjadi benteng terakhir untuk menjaga identitas masyarakat dari arus pembangunan yang datang begitu cepat.

Ironisnya, film dokumenter ini justru menghadapi hambatan pemutaran di sejumlah daerah. Diskusi dan nonton bareng dilaporkan dibubarkan di beberapa tempat, membuat akses publik terhadap isu yang diangkat film tersebut menjadi terbatas.

Padahal, lewat pesta babi dan ritual adat yang diwariskan turun-temurun, masyarakat Muyu sedang menyampaikan satu pesan sederhana, tanah bukan hanya soal ekonomi, tetapi tentang ingatan, warisan, dan masa depan sebuah komunitas.

Redaktur Komparasi.id