KOMPARASI.ID – Pemerintah mulai menyiapkan babak baru dalam kebijakan energi rumah tangga nasional. Setelah bertahun-tahun bergantung pada LPG subsidi 3 kilogram, kini Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah mematangkan konversi menuju Compressed Natural Gas (CNG), gas bumi bertekanan tinggi yang diklaim lebih murah dan lebih efisien bagi negara.
Namun, perubahan ini bukan sekadar mengganti isi tabung gas. Pemerintah sedang mengembangkan teknologi tabung baru berbahan komposit fiber yang disebut-sebut akan menjadi yang pertama di dunia untuk ukuran 3 kilogram.
Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa proyek ini masih memasuki tahap awal. Karena Indonesia belum menguasai teknologi produksi tabung tekanan tinggi tersebut, pemerintah akan lebih dulu mengimpor tabung dari China.
Menurut Laode, China dipilih karena memiliki kemampuan manufaktur untuk memproduksi tabung CNG Tipe 4, jenis tabung berbahan serat komposit yang ringan tetapi mampu menahan tekanan gas hingga 250 bar.
Sebagai perbandingan, tabung LPG konvensional saat ini hanya bekerja pada tekanan sekitar 5 hingga 10 bar. Perbedaan tekanan itulah yang membuat pemerintah harus merancang teknologi tabung baru dengan standar keselamatan jauh lebih tinggi.
“Faktor utama adalah safety. Kuncinya ada pada kekuatan tabung dan valve untuk menahan tekanan tinggi,” ujar Laode. dilansir dari
Berbeda dengan tabung LPG berbahan besi yang berat, tabung CNG baru ini dirancang lebih ringan agar memudahkan distribusi dan penggunaan masyarakat. Pemerintah bahkan menyebut proyek ini berpotensi menjadi inovasi global pertama untuk tabung CNG rumah tangga ukuran kecil.
Jika roadmap berjalan sesuai rencana, pemesanan perdana sekitar 100 ribu tabung akan dilakukan dalam tiga bulan ke depan. Setelah itu, pemerintah akan menjalankan proyek percontohan di sejumlah kota besar di Pulau Jawa untuk menguji kesiapan distribusi dan keamanan penggunaannya.dilansir dari cnbcindonesia
Di balik proyek teknologi tersebut, ada kepentingan yang jauh lebih besar, mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor LPG.
Selama ini, sebagian besar kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor, sementara cadangan gas bumi domestik dinilai jauh lebih melimpah. Dengan konversi ke CNG, pemerintah memperkirakan subsidi energi dan pengeluaran devisa negara bisa ditekan hingga 30-40 persen.
Artinya, negara tidak hanya mengejar efisiensi anggaran, tetapi juga mencoba membangun ulang arah kebijakan energi nasional berbasis sumber daya domestik.
Meski begitu, tantangan proyek ini tidak kecil. Selain teknologi tabung dan valve bertekanan tinggi, pemerintah juga harus memastikan kesiapan infrastruktur distribusi gas, standar keselamatan, hingga penerimaan masyarakat terhadap sistem baru tersebut.
Saat ini, pemerintah masih fokus menyelesaikan proses paten, pengujian, dan standardisasi tabung CNG Tipe 4 yang akan diawasi langsung oleh Lemigas.
Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi salah satu transformasi energi rumah tangga terbesar di Indonesia sejak program konversi minyak tanah ke LPG lebih dari satu dekade lalu.









Leave a Reply