KOMPARASI.ID – Asian Waterbird Census (AWC) akan dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Februari 2024 di Danau Limboto. AWC 2024 adalah kegiatan tahunan yang selalu diselenggarakan di Gorontalo dan merupakan bagian dari kegiatan internasional.
Penyelenggaraan di Indonesia didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wetlands International Indonesia, Yayasan EKSAI, Burung Indonesia, Burungnesia, dan Burung Laut Indonesia.
“Asian Waterbird Census adalah bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang berskala global, merupakan kegiatan tahunan dengan kerja sama sukarela. Sensus burung air Asia di Indonesia bertujuan untuk memperbarui data serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya di Indonesia,” kata Ketua Perkumpulan BIOTA, Debby Mano di Gorontalo,
Ia menjelaskan bahwa AWC ini merupakan salah satu alat untuk mendukung upaya konservasi burung air dan habitat lahan basahnya dengan melibatkan sukarelawan.
Data dan informasi yang dikumpulkan digunakan sebagai referensi untuk estimasi populasi burung air secara global dan untuk pengelolaan di tingkat nasional dan lokal, yang meliputi luas wilayah tidak kurang dari 5 juta km2.
Status dari 871 jenis burung air dikaji secara ilmiah untuk menentukan langkah-langkah pengelolaannya.
Di Indonesia, data populasi digunakan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi yang kritis untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership, serta penentuan status perlindungan untuk berbagai jenis burung.
Sejak tahun 1986, Wetlands International Indonesia/Yayasan Lahan Basah telah mengkoordinasikan pelaksanaan program Asian Waterbird Census (AWC) di seluruh Indonesia. Pada tahun 2024, kegiatan AWC Indonesia berkolaborasi dengan Monitoring Burung Pantai Indonesia (MoBuPi) dan diselenggarakan bersama-sama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wetlands International Indonesia/Yayasan Lahan Basah, Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, Burungnesia, dan Burung Laut Indonesia.
“Secara umum, burung air lebih sering ditemukan di habitat lahan basah, baik alami maupun buatan, termasuk sungai, danau, kolam, tambak, pantai, pesisir, hutan bakau, rawa gambut, sawah, tempat pembuangan limbah atau sampah, dan lokasi lainnya di mana burung air dapat ditemui,” kata Debby.
Secara global, sensus ini dilaksanakan sekali setahun secara serentak. Pada tahun 2024, di Indonesia, sensus dapat dilaksanakan selama bulan Januari-Februari.
Sensus burung air ini mencakup semua jenis burung air yang ditemui di habitat alaminya, termasuk kelompok kuntul, cangak, bangau, kowak, bebek, ayam-ayaman, pecuk, pecuk ular, burung pantai, pelikan, camar, tikusan, blekok, dan jenis burung air lainnya.
“Siapapun dapat berpartisipasi, baik itu pengamat burung profesional, pengamat burung amatir, pecinta alam, atau bahkan mereka yang belum pernah mengamati burung sekalipun. Kami di Gorontalo selalu membuka kesempatan bagi partisipasi individu dan lembaga sebagai upaya untuk mendorong perkembangan sains yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.
Sensus burung air ini dilakukan dengan mengamati langsung burung air di lokasi, mencatat informasi yang diperlukan, dan mengirimkan data kepada penyelenggara nasional sesuai dengan mekanisme pelaporan yang disediakan.
Data hasil sensus dari seluruh partisipan akan digunakan sebagai referensi untuk estimasi populasi burung air atau untuk keperluan pengelolaan dan penelitian sains warga (citizen science) lainnya yang relevan, khususnya bagi kontributor data, dengan memegang teguh etika penelitian, prinsip kontribusi sukarela, dan profesionalitas.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA) bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo dan Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dengan dukungan dari Harry Mimin Cottages, Universitas Gorontalo, Program Studi Konservasi Hutan (Konstans) Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, Kelompok Studi Lingkungan Archipelago Universitas Negeri Gorontalo, KSK PWK Schediasi Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo, dan Lembaga Pers Mahasiswa Akurat Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo.









Leave a Reply