KOMPARASI.ID – Belalang mulai disebut-sebut sebagai alternatif protein untuk menu makan bergizi gratis.
Badan Gizi Nasional mengungkap rencana ini, terutama di daerah yang sudah terbiasa mengonsumsi serangga, seperti belalang atau ulat sagu.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi untuk menyediakan pangan bergizi sesuai budaya lokal, dengan keunggulan belalang yang kaya akan protein dan lebih terjangkau.
Menurut Dr. Johannes C. Chandrawinata, Dokter Spesialis Gizi dari RS Melinda Bandung, belalang kaya akan protein dan lemak sehat.
“Belalang dapat menjadi alternatif sumber protein yang efisien dan ramah lingkungan. Di berbagai budaya, termasuk Eropa dan Amerika, serangga telah lama dikonsumsi,” ujarnya (26/1).
Dia juga merinci kandungan gizi serangga yang cukup mengesankan seperti halnya, Jangkrik per 100 gram mentah terdapat 460 kalori, 18,5 gram lemak, dan 69 gram protein.
Lanjutnya, Belalang per 100 gram mentah terdapat 560 kalori, 38 gram lemak, dan 48 gram protein.
Sebagai perbandingan, daging sapi hanya mengandung 250 kalori, 15 gram lemak, dan 26 gram protein per 100 gram, sementara telur rebus mengandung 155 kalori, 11 gram lemak, dan 13 gram protein.
Dengan kandungan nutrisi seperti ini, serangga bisa menjadi alternatif yang lebih padat gizi dibanding sumber protein konvensional.
Namun, apakah belalang aman bagi semua orang? Johannes mengingatkan bahwa selera anak terhadap serangga perlu dipertimbangkan.
“Selain itu, alergi juga menjadi isu penting. Jika anak alergi udang, kemungkinan besar mereka juga alergi terhadap serangga,” ungkapnya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Inge Permadi, spesialis gizi dari RSCM. Dia menekankan pentingnya memberikan informasi pada makanan berbasis serangga, terutama terkait risiko alergi.
“Orang yang alergi terhadap protein tertentu, seperti telur atau udang, bisa saja mengalami reaksi serupa terhadap belalang atau ulat sagu,” jelasnya.















