Onghokham Sejarawan Nyentrik yang Mengubah Cara Kita Membaca Indonesia

Keterangan : Onghokham Sejarawan Multidimensi (foto : Historia.id)
Keterangan : Onghokham Sejarawan Multidimensi (foto : Historia.id)

KOMPARASI.ID , Sejarah – Sebelum kajian sejarah publik berkembang pesat seperti hari ini, penulisan sejarah Indonesia cenderung berkutat pada kisah politik dan peristiwa besar.

Namun, Onghokham memilih jalur berbeda. Ia mengulik sisi-sisi sejarah yang dianggap remeh, tabu, bahkan aneh oleh banyak sejarawan, mulai dari kuliner, seksualitas, hingga alam gaib.

Pendekatan unik itu membuat Ong bukan hanya dikenal di ruang akademik, tetapi juga menjadi figur publik yang hangat dibicarakan pembaca media massa.

“Pada tahun 1970-an, 1980-an, Ong satu-satunya sejarawan senior yang menulis tentang ilmunya dalam media-media. Itu yang membuat Ong menjadi semacam celebrity historian pada zaman itu,” ujar sejarawan Australia, David Reeve, dalam diskusi bertajuk “Onghokham Sejarawan Multidimensi” di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, 5 Desember 2025. Dilansir Historia.id

Reeve bukan sekadar pengamat. Ia sahabat dekat Onghokham, mendampingi masa-masa terakhir hidup sang sejarawan hingga wafat pada 30 Agustus 2007.

Pengalamannya kemudian dituliskan dalam biografi Tetap Jadi Onghokham: Sejarah Seorang Sejarawan yang terbit pada 2024.

Menurut Reeve, kebiasaan Ong menulis di media massa adalah hal yang langka di masanya. Sejumlah sejarawan beken seperti Sartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah, dan Mona Lohanda merasa enggan menulis artikel pendek di koran atau majalah. Mereka menganggapnya tidak berbobot dan terlalu sementara dibandingkan riset panjang atau buku akademik.

Baca Juga :  Selayang Pandang Gorontalo sebelum menjadi Provinsi

“Mereka tidak mau membuang talenta dan bakat mereka untuk menulis di pers. Lain sekali dengan sekarang, semua sejarawan muda sekarang buru-buru lari terbirit-birit untuk muncul di media, muncul di televisi, podcast, dan sebagainya,” kata Reeve fasih.

Di antara para begawan sejarah itu, Ong muncul sebagai pengecualian. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Yale pada 1975, Ong aktif menulis di media seperti Kompas, Tempo, The Jakarta Post, hingga jurnal Prisma.

Ia menyajikan tema sejarah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi jarang dibahas: seksualitas dan kekuasaan, korupsi, hingga tempe sebagai identitas kuliner Jawa.

Ong bahkan pernah menjadi pembicara dalam “Konferensi Tuyul” di Semarang pada 1985, acara yang didominasi para dukun dan paranormal.

Ia memberi perspektif sejarah tentang legitimasi makhluk-makhluk mistis seperti tuyul, Nyai Blorong, dan Nyai Roro Kidul melalui konstruksi sosial budaya.

Baca Juga :  Linula Limutu dan 2 Perjanjian Perdamaian yang Sakral

Artikel tersebut kemudian ia tulis di Kompas pada 13 November 1985 berjudul “Legitimasi Melalui Alam Gaib”.

“Ong selalu tertarik dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional terutama di Jawa. Dan salah satunya adalah Ong menjadi ahli tuyul. Ong terkenal karena tuyul,” ujar Reeve.

Di dunia akademik, Ong memang dikenal sebagai dosen Jurusan Sejarah Universitas Indonesia. Namun, minatnya menulis di media sudah muncul sejak ia masih kuliah hukum di UI pada 1950-an, sebelum hijrah ke Fakultas Sastra dan mendalami sejarah.

Ia pertama kali menulis di Star Weekly, membahas sejarah Tionghoa peranakan. Studi doktoralnya di Yale tidak hanya memberinya gelar, tetapi juga keahlian memasak yang justru sering ia banggakan.

“Dia lulus dari Yale tahun 1975 dan kembali ke Jakarta untuk menjadi publik intelektual, sejarawan publik,” kenang Reeve.

Menurut Reeve, periode 1971-2001 adalah masa paling produktif bagi Ong sebagai sejarawan publik. Ia menjadi narasumber favorit wartawan dalam dan luar negeri karena kemampuannya menghubungkan politik aktual dengan sejarah panjang Indonesia.

Baca Juga :  Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Jawa Tondano Gorontalo

Pengetahuannya luas, tutur katanya penuh humor, dan ia mampu menjadikan sejarah terasa dekat bagi siapa saja yang mendengarnya.

Popularitas Ong membuatnya sering hadir di acara-acara kedutaan asing. Dengan gaya humor yang khas, kadang mengulang jokes yang sama untuk audiens berbeda, Ong selalu berhasil mencuri perhatian.

Di balik semua itu, Ong meninggalkan warisan intelektual yang tidak main-main, ratusan tulisan sejarah yang tersebar di berbagai media.

Artikel-artikel itu tidak hanya mendokumentasikan pemikiran Ong, tetapi juga membuka jalan bagi berkembangnya sejarah publik di Indonesia, sebuah pendekatan yang kini kian relevan bagi generasi baru pembaca sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *