KOMPARASI.ID – Jong Celebes merupakan salah satu organisasi pemuda yang turut ambil bagian dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928, momen bersejarah yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.
Kiprah organisasi ini menjadikan sejarah, tujuan, hingga tokoh-tokohnya menarik untuk dipelajari generasi muda Indonesia saat ini.
Sejarah Jong Celebes bermula beberapa dekade sebelum kemerdekaan. Para anggotanya berasal dari Suku Minahasa yang tersebar di berbagai wilayah Sulawesi, dengan tujuan mempererat rasa persatuan di antara sesama pemuda perantauan.
Organisasi ini didirikan oleh pelajar-pelajar STOVIA, dengan gagasan awal dari sosok T. A. Kandou yang kemudian terpilih sebagai ketua.
Bersama organisasi pemuda daerah lainnya, Jong Celebes aktif bergerak di bidang sosial dan politik jelang kemerdekaan.
Keberadaannya turut melahirkan sejumlah tokoh penting bangsa yang berperan dalam berbagai peristiwa sejarah Indonesia.
Sejarah Singkat Jong Celebes
Jong Celebes lahir dari inisiatif para pelajar STOVIA di Jakarta. Banyak ahli menyebut pendirian organisasi-organisasi pemuda pada masa tersebut dipicu oleh Politik Etis Belanda, terutama terkait akses pendidikan bagi kaum bumiputra.
Menurut Momon Abdul Rahman dkk. dalam Sumpah Pemuda, Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional (2008), Jong Celebes berdiri pada 6 Januari 1918.
Pendirinya adalah Tom Kandou (T.A. Kandou), seorang pelajar STOVIA yang terinspirasi oleh berdirinya Jong Sumatranen Bond pada Desember 1917.
Kandou mengajak pelajar-pelajar Minahasa lainnya untuk membentuk perkumpulan bernama Studeerenden Vereeniging Minahasa (Perhimpunan Pelajar Minahasa).
Perkumpulan ini menjadi cikal bakal Jong Celebes dan menginspirasi lahirnya kelompok serupa di Bogor, Sukabumi, Tondano, dan Bandung. Tujuannya tetap sama, memperkuat solidaritas pemuda Minahasa di perantauan.
Nama Studeerenden Vereeniging Minahasa kemudian resmi berubah menjadi Jong Celebes pada 1928, setahun sebelum Kongres Pemuda II.
Penggantian nama ini mengikuti pola organisasi pemuda lain seperti Jong Java dan Jong Sumatranen Bond yang menggunakan nama daerah asal sebagai identitas.
Tokoh-Tokoh Jong Celebes
Saat berdiri, Jong Celebes beranggotakan 34 pelajar Minahasa di STOVIA. Berikut beberapa tokoh penting yang tercatat sebagai anggota:
1. T.A. Kandou
Penggagas sekaligus ketua Jong Celebes. Ia aktif mendorong anggotanya terlibat dalam kegiatan politik, termasuk Kongres Pemuda. Kandou dikenal pandai menjalin relasi dan menjadi salah satu pencetus pembentukan federasi organisasi pemuda.
2. Magdalena Mokoginta
Anggota Jong Celebes yang merupakan kakak dari Panglima AD A.Y. Mokoginta. Ia menikah dengan Raden Said Soekanto, Kepala Polri pertama, dan kemudian dikenal sebagai pendiri Bhayangkari.
3. A. Mononutu Wilson
Bendahara Jong Celebes dan keturunan dari Arnold Mononutu, orang Minahasa pertama yang lulus dari STOVIA dan Menteri Penerangan pada era RIS. Sebelum di Jong Celebes, ia aktif di Jong Minahasa.
4. Sam Ratulangi
Salah satu tokoh paling terkenal dari Jong Celebes. Pahlawan Nasional ini merupakan Gubernur Sulawesi pertama dan pernah diasingkan Belanda karena aktivitas politiknya. Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Manado dan dalam uang Rp20.000.
5. R.C.L. Senduk
Anggota Jong Celebes yang juga menjadi panitia Sumpah Pemuda sebagai Pembantu III. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penggagas Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Bahder Djohan.
6. Magdalena Waworuntu
Tokoh perempuan Jong Celebes yang ikut serta dalam Kongres Pemuda II. Pasca kemerdekaan, ia menjadi Walikota wanita pertama di Manado pada 1950.
Peran Jong Celebes dalam Sumpah Pemuda
Jong Celebes menjadi satu dari sejumlah organisasi pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda II. Pertemuan tersebut digagas oleh PPPI dan diikuti berbagai organisasi daerah seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, dan Jong Ambon.
Anggota Jong Celebes, R.C.L. Senduk, turut aktif dalam kepanitiaan bersama tokoh-tokoh lain seperti Sugondo Djojopuspito, Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, dan Johannes Leimena.
Jong Celebes termasuk organisasi yang mendukung fusi organisasi pemuda daerah yang kemudian melahirkan Indonesia Muda. Mereka bersatu bersama Jong Soematra Bond dan Sekar Roekoen, menguatkan semangat persatuan nasional.















