Di Antara Medan Operasi dan Ruang Istana, Nama Itu Kini Tinggal Kenangan

KOMPARASI.ID – Satu demi satu, generasi perwira Orde Baru meninggalkan panggung sejarahnya. Kini giliran Try Sutrisno prajurit yang pernah berdiri di lingkar terdalam kekuasaan yang menutup perjalanan panjangnya.

Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia itu wafat pada Senin (2/3/2026) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD), Jakarta. Kepergiannya bukan sekadar kabar duka, melainkan juga penanda berakhirnya satu fragmen penting dalam sejarah politik Indonesia, masa senja Orde Baru.

Try adalah figur militer yang menapaki tangga kekuasaan hingga kursi wakil presiden, mendampingi Soeharto pada periode 1993-1998 tahun-tahun yang diwarnai gejolak politik, krisis ekonomi, dan gelombang perubahan yang kelak menjelma Reformasi.

Latar Militer dan Awal Karier

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Ia menempuh jalur militer sejak muda dengan menjadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Dari sana, kariernya berkembang melalui berbagai penugasan strategis di tubuh TNI.

Baca Juga :  Terpilih Lewat PSU, Wahyudin Moridu Tersandung Ucapan “Rampok Uang Negara”

Namanya mulai dikenal luas ketika terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962. Momentum ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan militernya sekaligus mempertemukannya dengan Soeharto, yang kelak menjadi Presiden RI selama lebih dari tiga dekade.

Pada 1974, Try dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto posisi yang membawanya semakin dekat ke lingkar inti kekuasaan. Kariernya terus menanjak, Agustus 1985 ia diangkat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) dengan pangkat Letnan Jenderal. Sepuluh bulan kemudian, Juni 1986, ia dipercaya menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).

Baca Juga :  Prabowo Subianto Tekankan Swasembada Pangan dan Energi di Pidato Perdana

Menjadi Wakil Presiden di Masa Transisi

Puncak karier politik Try Sutrisno terjadi pada 1993. Melalui Sidang Umum MPR, ia terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia untuk mendampingi Soeharto pada periode 1993-1998.

Masa jabatan itu bukan periode yang tenang. Indonesia memasuki krisis multidimensi pada 1997-1998 yang berujung pada tumbangnya Orde Baru. Dalam rentang waktu tersebut, Try kerap dipandang sebagai figur yang berdiri pada garis stabilitas pemerintahan, sejalan dengan pendekatan keamanan yang menjadi ciri rezim saat itu.

Setelah Soeharto mundur pada Mei 1998, posisi wakil presiden beralih kepada B. J. Habibie, yang kemudian menjabat Presiden RI.

Baca Juga :  Sejarah Kepemimpinan Perempuan di Gorontalo

Jejak Setelah Purnatugas

Pasca tidak lagi menjabat, Try Sutrisno tetap hadir dalam ruang publik, terutama dalam forum-forum kebangsaan. Ia dikenal sebagai figur militer senior yang masih kerap menyuarakan pandangan mengenai ideologi dan keutuhan negara.

Kini, kepergiannya menutup satu bab tentang generasi perwira yang tumbuh di era konflik bersenjata, matang dalam struktur militer Orde Baru, lalu masuk ke panggung politik nasional.

Almarhum rencananya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Blok M131 setelah salat zuhur. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga pengingat atas satu fase sejarah Indonesia yang membentuk wajah politik negeri ini selama puluhan tahun.

Redaktur Komparasi.id