Toedjoean Coffee: Ruang Singgah Anak Muda di Sudut Kota Gorontalo dengan Harga Ramah Kantong

KOMPARASI.ID – Di sudut Jalan Jamaludin Malik, Kota Gorontalo, suara kendaraan bersahutan dengan denting sendok yang beradu di gelas kopi.

Di bawah bentangan kain putih yang ditarik dengan tali seadanya, beberapa anak muda duduk melingkar di kursi camping hitam.

Sebagian sibuk bercerita, sebagian lain tenggelam dalam layar ponsel, ditemani aroma kopi yang mengepul pelan.

Warung kopi itu bernama Toedjoean Coffee. Namanya terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang keberanian, jatuh bangun, dan cinta pada kopi yang tak pernah selesai diracik.

Dua pria berada di balik berdirinya warung itu, Bima Sandi Kurnia Malik dan Rifal Alamri. Mereka bukan pebisnis besar dengan modal tebal, melainkan dua orang yang bertahun-tahun hidup bersama kopi, lalu dipertemukan oleh nasib dan gagasan yang sama.

Bima sudah lebih dulu mencoba peruntungan sejak 2016. Ia pernah menjajakan kopi dan minuman kekinian dengan berbagai nama brand.

Semua dimulai dari keberanian kecil, menjual racikan sendiri dengan modal semangat dan keyakinan bahwa kopi bukan sekadar minuman.

Ada masa ketika nama “Aksara” sempat ia bangun perlahan. Nama itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya memahami selera pelanggan, bertahan di tengah usaha yang naik turun, hingga belajar bahwa bisnis kopi bukan cuma soal rasa, tetapi juga tentang bertahan hidup.

Baca Juga :  Kemunculan Hiu Paus Dongkrak Perekonomian Warga Botubarani

Di sisi lain, Rifal lebih dulu dikenal lewat Gahwa Shop di Gentuma, Kabupaten Gorontalo Utara. Nama warung kopinya cukup akrab di telinga mahasiswa yang kuliah di pusat Kota Gorontalo.

Orang datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk suasana yang terasa dekat, tempat singgah sebelum pulang, sebelum patah hati, atau sebelum memulai sesuatu yang baru.

Namun waktu membuat banyak hal berubah. Rifal meninggalkan kampung asalnya. Bima juga tak lagi berjalan dengan brand lamanya.

Hingga pada 2026, keduanya dipertemukan oleh satu gagasan yang sama, membangun tempat baru tanpa membawa nama lama. Mereka lalu memilih satu kata, Toedjoean.

Bukan “tujuan” dengan ejaan modern, tetapi “toedjoean” seperti aksara lama yang terasa lebih puitis dan penuh nostalgia.

“Setiap orang punya tujuannya masing-masing. Tapi sebelum sampai ke tujuan, biasanya orang singgah dulu di kopi, begitu kira-kira filosofi yang mereka pegang.”ujar Bima.

Keterangan foto : suasana sore hari di Toedjoean Coffee Gorontalo
Keterangan foto : suasana sore hari di Toedjoean Coffee Gorontalo

Warung kopi itu dibangun tanpa kemewahan. Dinding dapurnya ditutup seng bekas yang masih memperlihatkan warna kusam.

Baca Juga :  Vifest25 Gelar Konser Spektakuler Rayakan 25 Tahun SMA Negeri 3 Gorontalo, Hadirkan Nadin Amizah!

Atap peneduh menggunakan kain flysheet yang ditarik melintang untuk menahan panas siang dan embun malam. Kursinya campuran, sebagian kursi lipat ala camping, sebagian lagi bangku kayu palet rakitan sendiri.

Tidak ada interior mahal. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada konsep industrial yang dipoles sempurna seperti kafe-kafe kota besar. Tetapi justru di situlah daya tariknya.

Toedjoean Coffee terlihat seperti ruang yang tumbuh dari keterbatasan, lalu menjadikan keterbatasan itu sebagai identitas.

Di tengah menjamurnya coffee shop dengan desain seragam dan kopi yang terasa “terlalu rapi”, warung kecil ini hadir dengan kesan mentah, sederhana, dan akrab.

Hal lain yang membuat tempat ini cepat menarik perhatian anak muda adalah harga menunya. Di saat banyak coffee shop menjual segelas kopi dengan harga belasan hingga puluhan ribu rupiah lebih mahal, Toedjoean Coffee memilih jalur berbeda.

Mereka menjual kopi hitam filter mulai Rp10 ribu, kopi susu Rp12 ribu, hingga berbagai minuman kekinian seperti aren latte, taro latte, dan squash dengan harga yang tetap ramah untuk kantong mahasiswa maupun pekerja harian.

Baca Juga :  Lari Tipis-tipis Hadiah Fantastis, ASN Dapat Harga Spesial di Gorontalo Fun Run 2025

Bahkan camilan seperti pisang goreng, roti bakar, hingga Indomie dijual dengan harga yang nyaris sulit ditemukan di coffee shop lain hari ini.

Bagi Bima dan Rifal, kopi tidak boleh menjadi simbol gaya hidup eksklusif yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Mereka ingin siapa saja bisa duduk di tempat itu tanpa merasa minder karena isi dompet.

“Yang penting orang bisa datang, silaturahmi, diskusi, dan menikmati kopi,” begitu semangat sederhana yang mereka rawat.

Karena itulah, Toedjoean Coffee perlahan tumbuh bukan sekadar sebagai tempat ngopi, melainkan ruang singgah bagi banyak orang mahasiswa, pengendara ojek, pekerja, hingga anak muda yang hanya ingin mencari tenang setelah seharian menghadapi hiruk-pikuk kota.

Di sore hari, beberapa pengunjung duduk lama tanpa merasa diusir waktu. Lampu-lampu gantung mulai menyala pelan ketika langit berubah gelap. Dari sudut bar kecil itu, aroma espresso bercampur dengan angin kota yang lewat tanpa permisi.

Toedjoean Coffee mungkin bukan tempat paling mewah di Gorontalo. Tetapi seperti namanya, warung kopi ini sedang berjalan menuju sesuatu.

Dan kadang, sebuah tujuan memang lahir dari tempat-tempat sederhana yang dibangun dengan cinta dan keyakinan seadanya.

Lulusan Ilmu Komunikasi konsentrasi jurnalistik ini meniti karier dari dunia penyiaran radio. Ia juga sempat berkarir di media cetak majalah dan surat kabar dengan pengalaman di berbagai media lokal hingga nasional. Perjalanan yang dimulainya sejak tahun 2012 ini membentuknya sebagai jurnalis yang, adaptif, dan berorientasi pada kekuatan narasi.