Bulan Terus Menjauh dari Bumi, Gerhana Matahari Total Suatu Hari Akan Berakhir

Foto: Bulan saat fase sabit membesar di atas Ronda, Spanyol, setelah peluncuran misi lintas bulan Artemis II NASA, dengan roket bulan generasi berikutnya, roket Space Launch System (SLS) dan kapsul awak Orion, 2 April 2026. (REUTERS/Jon Nazca)
Foto: Bulan saat fase sabit membesar di atas Ronda, Spanyol, setelah peluncuran misi lintas bulan Artemis II NASA, dengan roket bulan generasi berikutnya, roket Space Launch System (SLS) dan kapsul awak Orion, 2 April 2026. (REUTERS/Jon Nazca)

KOMPARASI.ID – Bulan perlahan terus menjauh dari Bumi. Jarak rata-rata Bumi dan Bulan yang saat ini sekitar 384.400 kilometer bertambah beberapa sentimeter setiap tahun.

Pergerakan tersebut berlangsung sangat lambat sehingga tidak dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam skala waktu jutaan hingga miliaran tahun, perubahan jarak itu dapat memengaruhi salah satu fenomena astronomi paling spektakuler, yakni gerhana Matahari total.

Pengukuran jarak Bumi-Bulan dilakukan antara lain melalui Lunar Laser Ranging Experiment. Dalam misi Apollo pada 1960-an, astronaut memasang panel reflektor di permukaan Bulan.

Panel tersebut memungkinkan ilmuwan mengukur jarak Bumi dan Bulan dengan menembakkan sinar laser dari Bumi dan menghitung waktu yang dibutuhkan cahaya untuk kembali setelah dipantulkan.

Dari pengukuran tersebut diketahui bahwa Bulan rata-rata menjauh dari Bumi sekitar 3,8 sentimeter per tahun.

Baca Juga :  Yolan Polontalo, Srikandi PDIP, Kembali Duduki Kursi DPRD Gorontalo Periode 2024-2029

Mengapa Bulan Menjauh?

Perubahan jarak tersebut berkaitan dengan interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan serta pasang surut air laut.

Dalam prosesnya, rotasi Bumi secara perlahan kehilangan energi dan melambat. Energi tersebut berpindah ke orbit Bulan sehingga Bulan secara bertahap bergerak semakin jauh dari Bumi.

Perubahan ini berlangsung sangat kecil setiap tahunnya. Namun, efeknya menjadi signifikan jika dihitung dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Salah satu konsekuensinya berkaitan dengan gerhana Matahari total.

Gerhana Matahari Total Bisa Hilang

Saat terjadi gerhana Matahari total, Bulan berada pada posisi yang memungkinkan piringannya tampak cukup besar untuk menutupi seluruh Matahari dari sudut pandang pengamat di wilayah tertentu di Bumi.

Kondisi tersebut dimungkinkan karena meskipun Matahari secara fisik sekitar 400 kali lebih besar daripada Bulan, Matahari juga berada sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi.

Baca Juga :  Supriansyah Hadirkan Budaya Sulawesi Selatan di Tengah Riuh Pacu Jalur 2025

Akibatnya, ukuran tampak Matahari dan Bulan di langit terlihat hampir sama.

Namun, ketika Bulan terus menjauh, ukuran tampaknya dari Bumi juga secara perlahan mengecil. Pada suatu titik di masa depan, Bulan tidak lagi akan mampu menutupi seluruh piringan Matahari.

Artinya, gerhana Matahari total pada akhirnya tidak akan terjadi lagi.

Ilmuwan NASA Richard Vondrak pada 2017 memperkirakan bahwa sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan mengalami gerhana Matahari total untuk terakhir kalinya.

“Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total akan berkurang,” kata Vondrak. Dilansir dari cnbcindonesia.com

Setelah itu, gerhana yang terjadi akan lebih banyak berupa gerhana Matahari cincin atau sebagian, karena Bulan tampak lebih kecil dibandingkan Matahari di langit.

Baca Juga :  Hari Batik Nasional 2024: Merajut Keberagaman dan Melestarikan Warisan Budaya

Bulan Pernah Tampak Jauh Lebih Besar

Posisi Bulan saat ini juga bukan kondisi yang selalu sama sepanjang sejarah Bumi.

Sekitar miliaran tahun lalu, Bulan berada lebih dekat dengan Bumi sehingga ukuran tampaknya di langit jauh lebih besar dibandingkan sekarang.

Perubahan jarak tersebut menjadi bagian dari evolusi sistem Bumi-Bulan yang berlangsung dalam skala waktu geologis.

Bagi manusia saat ini, pergeseran 3,8 sentimeter per tahun nyaris tidak memiliki dampak yang dapat dirasakan secara langsung. Namun, perubahan kecil tersebut menunjukkan bahwa sistem Bumi dan Bulan terus bergerak dan berevolusi.

Gerhana Matahari total yang dapat disaksikan manusia sekarang pada akhirnya menjadi fenomena yang hanya berlangsung dalam satu fase panjang sejarah Bumi dan Bulan.


**Cek berita dan artikel terbaru Komparasi.id dengan mengikuti WhatsApp Channel

Redaktur Komparasi.id