Silet Open Up, Perjalanan Musisi Flores Menaklukkan Panggung Nasional

Keterangan Foto : Foto: instagram.com/siletopenup
Keterangan Foto : Foto: instagram.com/siletopenup

KOMPARASI.ID – Siprianus Bhuka, atau lebih dikenal dengan nama panggung Silet Open Up, bukan nama yang muncul secara tiba-tiba di panggung musik nasional.

Musisi asal Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu membangun kariernya secara bertahap sebelum namanya semakin dikenal luas melalui lagu “Tabola Bale”.

Perjalanan Silet Open Up memperlihatkan bagaimana musik pesta yang tumbuh dari kreativitas musisi daerah dapat berkembang menjadi fenomena nasional ketika bertemu dengan media sosial.

Puncaknya terlihat ketika Silet Open Up membawakan “Tabola Bale” bersama Diva Aurel dalam perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus 2025.

Penampilan tersebut bahkan membuat Presiden Prabowo Subianto, sejumlah menteri, serta tokoh nasional seperti Iriana Jokowi dan Titiek Soeharto ikut berdiri dan bergoyang mengikuti irama lagu.

Berawal dari Keluarga yang Dekat dengan Musik

Silet Open Up lahir di Ngada, Flores, pada 22 November 1993.

Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia musik karena keluarganya memiliki kedekatan dengan aktivitas tarik suara.

Ketertarikannya terhadap musik kemudian berkembang ketika ia menempuh pendidikan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Di Yogyakarta, Silet bergabung dengan grup hip hop DMC.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik awal yang membentuk karakter bermusiknya. Ia kemudian memilih bersolo karier dan mengeksplorasi berbagai genre, mulai dari R&B, rap, hingga musik pesta.

Dari berbagai eksperimen tersebut, Silet menemukan kombinasi musik pesta, rap, dan hip hop sebagai karakter yang paling nyaman untuk dikembangkan.

Baca Juga :  Adhan Dambea Tegaskan Pelayanan Prima “Lurah Jangan Banyak Tidur!”

Musik dengan karakter enerjik tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan yang membawanya lebih dekat dengan pendengar generasi muda.

Dari Panggung Musik ke KTT ASEAN

Sebelum “Tabola Bale” menjadi fenomena, Silet Open Up telah lebih dahulu mendapatkan kesempatan tampil di panggung kenegaraan.

Pada 2023, ia tampil dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.

Kehadiran Silet dalam acara tersebut menunjukkan bahwa musik dengan karakter pesta dan identitas daerah memiliki ruang di panggung yang sebelumnya identik dengan pertunjukan formal.

Setahun kemudian, ia kembali membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

Silet mewakili Indonesia dalam festival ABU TV Song 2024 di Istanbul, Turki, dengan membawakan lagu “Kaka Main Salah”.

Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam kariernya sebelum “Tabola Bale” mengantarkannya ke tingkat popularitas yang lebih luas.

Tabola Bale dan Ledakan Musik di Era Digital

“Tabola Bale” menjadi titik balik berikutnya.

Lagu yang diciptakan Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Kiki Acoustic itu dirilis pada 2025 dan berkembang cepat di platform digital.

Video musiknya dirilis pada 3 April 2025.

Dalam beberapa bulan, lagu tersebut mencatat puluhan juta penayangan di YouTube. Hingga Agustus 2025, jumlah penayangannya telah menembus lebih dari 74 juta kali.

“Tabola Bale” juga sempat menempati posisi pertama Top 50 Indonesia di Spotify.

Capaian tersebut menunjukkan perubahan pola konsumsi musik di Indonesia.

Musisi tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada label besar, radio, atau televisi untuk memperkenalkan karya.

Baca Juga :  Perjuangan Udin Akuba, Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Sentral Gorontalo

Media sosial dan platform streaming memungkinkan lagu yang dibuat dari daerah berkembang secara organik dan menjangkau pendengar lintas wilayah.

Musik Pesta Menjadi Fenomena Nasional

Kekuatan “Tabola Bale” tidak hanya terletak pada popularitasnya, tetapi juga pada karakter musiknya yang mudah diterima dalam berbagai suasana.

Ritme yang enerjik membuat lagu tersebut mudah digunakan untuk berjoget, membuat konten media sosial, hingga dimainkan dalam berbagai acara.

Karakter seperti ini membuat musik pesta semakin dekat dengan budaya digital generasi muda.

Ketika sebuah lagu mudah dikenali hanya dari beberapa detik pertama, memiliki gerakan yang mudah diikuti, dan dapat digunakan dalam konten pendek, penyebarannya menjadi jauh lebih cepat.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa musik daerah tidak harus hadir dalam format tradisional untuk mendapatkan perhatian nasional.

Musik dengan identitas lokal dapat dikemas menggunakan rap, hip hop, R&B, musik elektronik, maupun format pesta tanpa kehilangan daya tariknya.

Fenomena yang Pernah Dialami Gemu Famire

Fenomena “Tabola Bale” juga mengingatkan pada kesuksesan “Gemu Famire” atau “Maumere” yang lebih dahulu menjadi fenomena nasional.

Lagu ciptaan Frans Cornelis Dian Bunda atau Nyong Franco tersebut pernah digunakan dalam berbagai kegiatan senam dan tarian massal di Indonesia.

Pada 2018, “Gemu Famire” bahkan digunakan dalam kegiatan yang melibatkan 346.829 penari dalam rangka HUT TNI ke-73 dan tercatat dalam rekor MURI.

Namun, terdapat perbedaan jalur popularitas antara keduanya.

Baca Juga :  Siap Kuliah Gratis di Kampus Teknologi Top? Cek Beasiswa Vivo NexGen!

“Gemu Famire” berkembang terutama melalui kegiatan masyarakat, senam bersama, dan pertunjukan massal.

Sementara “Tabola Bale” tumbuh dalam ekosistem digital melalui YouTube, Spotify, TikTok, dan berbagai platform media sosial.

Perbedaan tersebut menunjukkan bagaimana cara sebuah lagu daerah menjadi populer telah berubah.

Jika dahulu lagu membutuhkan panggung besar dan kegiatan massal untuk menyebar, kini sebuah lagu dapat menjadi fenomena nasional hanya melalui layar telepon.

Ketika Musik Daerah Masuk Istana

Perjalanan “Tabola Bale” akhirnya mencapai salah satu panggung paling simbolis di Indonesia: Istana Merdeka.

Pada perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Silet Open Up bersama Diva Aurel membawakan lagu tersebut di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para tamu undangan.

Musik pesta yang sebelumnya berkembang melalui platform digital itu kemudian dimainkan dalam perayaan kenegaraan.

Respons para tamu yang ikut bergoyang menunjukkan satu hal: musik tidak selalu membutuhkan suasana formal untuk menghadirkan rasa kebersamaan.

Dari perjalanan Silet Open Up, fenomena “Tabola Bale” memperlihatkan perubahan wajah industri musik Indonesia.

Musik daerah kini tidak hanya menjadi representasi wilayah asalnya, tetapi dapat menjadi bagian dari budaya populer nasional.

Silet Open Up menjadi salah satu contoh musisi yang berhasil membawa karakter musiknya dari panggung lokal, ruang digital, hingga panggung kenegaraan.

Dan “Tabola Bale” menunjukkan bahwa di era digital, jarak antara musik daerah dan panggung nasional semakin tipis.


**Cek berita dan artikel terbaru Komparasi.id dengan mengikuti WhatsApp Channel

Redaktur Komparasi.id