KOMPARASI.ID – Lagu “Tabola Bale” yang dipopulerkan Silet Open Up sempat dianggap sebagai lagu asal Minangkabau.
Anggapan tersebut muncul karena sejumlah bagian liriknya menggunakan bahasa Minang.
Namun, di balik penggunaan bahasa tersebut, “Tabola Bale” justru memiliki akar musikal yang kuat dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lagu tersebut diciptakan Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Kiki Acoustic dengan mengambil inspirasi dari pengalaman serta budaya mereka sebagai orang Flores.
Salah satu unsur yang menonjol adalah irama atau beat Ja’i, pola ritme yang digunakan dalam tarian tradisional masyarakat Ngada, Flores.
Ja’i merupakan tarian pergaulan sekaligus tarian syukur masyarakat Flores. Tarian ini biasanya dilakukan secara berkelompok dengan gerakan yang berulang dan penuh energi.
Nuansa tersebut kemudian menjadi salah satu dasar musikal “Tabola Bale”.
Bahasa Minang Dipadukan dengan Musik Flores
Pada awalnya, “Tabola Bale” dibuat dengan logat Flores dan berangkat dari pengalaman para penciptanya.
Dalam perkembangannya, hadir versi dengan logat Minang. Perpaduan tersebut membuat lagu ini memiliki karakter yang berbeda sekaligus mempertemukan dua latar budaya.
Karena penggunaan bahasa Minang, tidak sedikit pendengar yang mengira “Tabola Bale” merupakan lagu Minang.
Padahal, dari sisi irama, lagu tersebut tetap menampilkan karakter musik pesta yang berakar pada tradisi Flores.
Para penciptanya juga ingin menghadirkan warna berbeda di tengah musik yang mereka anggap cenderung monoton di pasaran.
Liriknya berkisah tentang seorang laki-laki yang merasa gelisah ketika melihat perempuan yang dicintainya, Maimuna, kembali dari perantauan dengan penampilan yang semakin memesona.
Kisah sederhana tersebut kemudian dikemas dengan melodi enerjik dan ritme pesta yang membuat lagu mudah dinikmati dan diikuti.
Dari Tabola Bale ke Gemu Famire
Fenomena “Tabola Bale” mengingatkan publik pada kesuksesan lagu “Gemu Famire” atau yang lebih dikenal sebagai “Maumere”.
Lagu ciptaan Frans Cornelis Dian Bunda atau Nyong Franco tersebut telah lama dikenal sebagai salah satu lagu dari NTT yang mampu menembus popularitas nasional.
“Gemu Famire” banyak digunakan sebagai musik pengiring senam dan tarian massal di berbagai daerah Indonesia.
Pada 2018, lagu tersebut bahkan digunakan dalam kegiatan yang melibatkan ratusan ribu penari dalam rangka HUT TNI ke-73 dan tercatat dalam rekor MURI.
Keduanya memiliki karakter berbeda. “Gemu Famire” dikenal luas melalui senam dan tarian massal, sementara “Tabola Bale” berkembang melalui musik pesta, media sosial, dan platform digital.
Namun, keduanya memiliki kesamaan: sama-sama membawa warna musik NTT ke ruang publik nasional.
Musik Daerah Menembus Batas
Popularitas “Tabola Bale” menunjukkan bahwa musik daerah tidak selalu harus hadir dalam bentuk tradisional untuk mempertahankan identitas budayanya.
Perpaduan bahasa, ritme lokal, dan musik modern justru dapat menjadi cara baru bagi budaya daerah untuk menjangkau generasi muda.
Penggunaan unsur bahasa Minang dalam “Tabola Bale” juga memperlihatkan adanya pertemuan budaya dalam sebuah karya musik.
Dari Flores, Yogyakarta, hingga panggung Istana Merdeka, “Tabola Bale” berkembang menjadi lebih dari sekadar lagu pesta.
Lagu tersebut menjadi contoh bagaimana musik daerah dapat menembus batas geografis dan budaya, sekaligus memperkenalkan identitas Indonesia Timur kepada khalayak yang lebih luas.
**Cek berita dan artikel terbaru Komparasi.id dengan mengikuti WhatsApp Channel






Leave a Reply