KOMPARASI.ID – Gorontalo boleh disebut identik dengan Kelapa yang dalam Bahasa Gorontalo disebut Bongo. Itulah sebabnya, kata “Bongo” banyak diabadikan sebagai nama-nama kampung dan dusun yang tersebar di seantero Gorontalo.
Sebutlah misalnya Desa Bongohulawa, Kecamatan Bongomeme, Tabongo, Bongopini, Desa Bongo Nol, Bongo 1 , Bongo 2 . Di Kabupaten Boalemo, Bongo Ngoayu, Bongolayuhu, Kampung Bongo di Bubohu Batudaa Pantai dan masih banyak lagi.
Dalam tradisi masyarakat Gorontalo “Mopomulo Lo Bongo” atau menanam kelapa seakan menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakoni oleh setiap keluarga, terutama di desa-desa.
Selain tidak membutuhkan perhatian dan perawatan yang cukup menyita waktu dan energi, tanaman kelapa juga tidak membutuhkan lahan yang luas. Di halaman dan di belakang rumah sekalipun memungkinkan bagi siapapun untuk menanam kelapa.
Demikian juga, bagi masyarakat Gorontalo yang dikenal memiliki kecenderungan bercocok tanam jagung atau Milu, menanam kelapa bukan menjadi penghalang, karena komoditi jagung bisa ditanam pada lahan perkebunan kelapa dengan sistem tumpang sari. Namun jika dibandingkan dengan Provinsi lain di Indonesia, tingkat produksi dan luasan perkebunan kelapa di Provinsi Gorontalo masih tertinggal jauh.
Sesuai data yang dikutip dar Buku Outlook Komoditas Perkebunan Kelapa yang diterbitkan Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2020 lalu, daerah penghasil Kelapa tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Riau disusul kemudian Provinsi Sulawesi Utara, Jawa Timur, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah. Kontribusi Provinsi Riau untuk produksi kelapa dalam di Indonesia sebesar 11,92 persen secara nasional.
Meski tidak termasuk dalam 5 besar penghasil kelapa tertinggi di Indonesia, namun areal lahan kebun kelapa di Gorontalo beserta tingkat produksinya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurut data yang dirilis Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo (2019), jumlah areal lahan kelapa di bumi Serambi Madinah mencapai 1.542 hektare.
Dari luas areal itu, sekitar 47.882 hektare dengan jumlah 4.782.200 pohon telah menghasilan buah. Sementara 33,131 hektar kelapa di Gorontalo terbilang tidak produktif lagi karena sudah berusia hingga 30 tahun sehingga perlu peremajaan.
Produksi kelapa rata-rata di Gorontalo mencapai 120 butir per pohon per tahun. Artinya, dengan jumlah luas lahan produksi yang mencapai 47.524 hektare itu, Gorontalo mampu menghasilkan produksi buah kelapa sebanyak 575.864.000 butir per tahun.
Jumlah tersebut belum termasuk tanaman kelapa yang berada di areal perkebunan masyarakat yang rata-rata memiliki tanaman kelapa minimal 10 pohon yang sengaja ditanam untuk konsumsi.
Dari total produksinya yang mencapai jutaan buah kelapa, maka tidak mengherankan jika Gorontalo menjadi salah satu daerah yang berhasil mengekspor Tepung Kelapa di kawasan Sulawesi.
Tercatat sejak tahun 2019, Gorontalo untuk pertama kalinya melakukan ekspor Tepung kelapa yang menembus pasar internasional, yakni Eropa, Afrika,dan Asia. Pada tahun 2019 kala itu, Nilai ekspor tepung kelapa mencapai 8.164.000 dolar Amerika.









Leave a Reply