Cerita Maryam yang Bertahan di Balik Sepinya Pasar Sentral

Keterangan Foto : Pedagang Pasar Sentral. (Randa/Komparasi.id)
Keterangan Foto : Pedagang Pasar Sentral. (Randa/Komparasi.id)

KOMPARASI.ID Sore itu, ketika langit Kota Gorontalo mulai memancarkan semburat jingga, pasar sentral yang biasanya riuh perlahan menjadi sunyi.

Hiruk-pikuk siang mereda, menyisakan lorong-lorong yang lengang. Cahaya lembut matahari sore menembus celah-celah bangunan pasar, menyinari sudut-sudut yang kini sepi.

Di salah satu sudut itu, seorang pedagang setia, duduk bersandar di meja kayu, ditemani dagangannya yang tersusun rapi, pisang matang dan umbi-umbian.

Maryam (59) itu telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di pasar ini. Tangan keriputnya dengan telaten membalik pisang satu per satu, memastikan dagangannya tetap terlihat menarik meski tak ada pembeli yang mendekat.

Baca Juga :  Polresta Gorontalo Kota Kerahkan 63 Personel Amankan Perayaan Imlek

Maryam mengenang masa-masa kejayaan pasar sentral, ketika lorong-lorong ini penuh sesak oleh pembeli.

“Dulu, satu hari saya bisa menjual dua karung besar ubi dan lima belas tandan pisang. Sekarang? Hanya dua tas kecil dan beberapa tandan saja,” ujarnya dengan sorot mata sayu.

Maryam bukan satu-satunya pedagang yang merasakan perbedaan itu. Renovasi pasar beberapa tahun lalu membawa perubahan besar. Banyak pedagang memilih berjualan di pinggir jalan, menarik pembeli menjauh dari pasar resmi.

“Sudah banyak pedagang di jalan sekarang. Seharusnya ada pengaturan supaya masyarakat kembali berbelanja di pasar sentral. Kalau begini terus, kami makin terpuruk,” katanya, suaranya tenggelam dalam kesunyian sore itu.

Baca Juga :  Menyambut Kemenangan: Narapidana Lapas Kelas II A Gorontalo Bersiap untuk Idul Fitri

Pendapatannya pun merosot tajam. Jika dahulu Maryam bisa membawa pulang hingga Rp 1 Juta dalam sehari, kini mengumpulkan seratus ribu saja menjadi perjuangan berat.

Ketika dagangannya tak habis, ia terpaksa menjual murah ke penjual gorengan.

“Kadang cuma balik modal atau untung sedikit, tapi setidaknya saya bisa bertahan hidup,” ungkapnya

Masalah ini tak hanya dialami Maryam. Hampir semua pedagang di pasar sentral merasakan dampak serupa.

Baca Juga :  Banjir di Talumolo Tak Kunjung Surut, Warga Alami Gatal-Gatal dan Kutu Air

Lorong-lorong pasar berubah menjadi ruang kosong yang menyisakan kelelahan dan harapan yang kian menipis. Sepinya pembeli adalah luka kolektif bagi komunitas kecil ini.

Maryam berharap pemerintah Kota Gorontalo lebih peduli pada nasib pedagang kecil. Ia menyebut perlunya regulasi untuk menertibkan pedagang jalanan dan mengembalikan daya tarik pasar sentral.

“Kami di sini berjuang bukan untuk jadi kaya, tapi sekadar bertahan hidup. Kami hanya ingin pasar ini kembali ramai seperti dulu,” ujarnya, matanya memandang jauh ke lorong yang kosong, seolah menatap kenangan masa lalu yang berkilau.