Perhiasan Dilepas, Mimpi Dipegang: Beginilah Brave Coffee Dilahirkan

KOMPARASI.ID Malam di simpang empat Jalan Budi Utomo selalu bergerak dengan ritme yang sama.

Arus kendaraan, suara pedagang, dan lampu merkuri yang menggantung pucat di depan Pasar Sentral Kota Gorontalo.

Namun di sudut yang paling sederhana dari keramaian itu, berdiri sebuah meja kayu yang justru menghadirkan cerita berbeda.

Di balik meja kecil itu ada Fadilah Yusuf yang akrab disapa Ila, mahasiswi semester lima Universitas Terbuka.

Dengan pakaian sederhana dan tangan yang cekatan, ia menyeduh kopi dari lapak yang ia beri nama Brave Coffee.

Tak ada hiasan mencolok, tak ada lampu-lampu artistik, hanya aroma kopi yang naik perlahan dan semangat yang tidak mudah dipatahkan.

Dari Barista Coffe Shop ke Lapak Jalanan

Sebelum memulai usahanya sendiri, Ila dikenal sebagai barista di sejumlah Coffee Shop di Gorontalo.

Ia membangun keahlian bukan dari pelatihan resmi, melainkan dari pelanggan yang mencicipi gelas-gelas buatannya.

“Bagaimana rasanya kak? Kurang pahit atau terlalu manis?” pertanyaan itu menjadi pelajaran hariannya.

Baca Juga :  Grand Q Hotel Tawarkan Promo Khusus untuk Peserta Gorontalo Half Marathon 2025

Tetapi ketika ia berhenti bekerja, rutinitas yang selama bertahun-tahun menghidupinya ikut padam.

Ia melamar ke banyak tempat, menunggu telepon yang tak pernah benar-benar berdering.

“Pemburu loker,” katanya sambil tertawa, tertawa yang lebih tepat disebut cara menyembunyikan lelah.

Ada hari-hari ketika ia berpikir mungkin ia harus berhenti bermimpi jadi barista.

Tapi rasa ingin kembali pada kopi itu tak pernah benar-benar padam. Sesuatu di dalam dirinya menolak menyerah.

Modal Keberanian dan Perhiasan yang Dilepas

Sebuah obrolan larut malam dengan pacarnya seorang musisi jalanan menjadi titik awal keberanian itu.

Ila ingin punya lapak sendiri, sesuatu yang tidak lagi bergantung pada orang lain.

Keputusan pun dibuat, ia menjual perhiasannya. Pacarnya menyisihkan pendapatan dari bermain musik, Dua sumber kecil itu disatukan menjadi modal pertama.

Selebihnya, mereka memakai apa yang ada, Kursi dari kayu bekas, Meja dari bahan seadanya, Baliho kecil sebagai penanda nama.

Baca Juga :  Ketika Kota Gorontalo Menjadi Ruang Tamunya Anak Muda

“Modal kami waktu itu cuma satu, berani,” ujar Ila.

Menamai Sebuah Mimpi

Proses memilih nama usaha pun tidak langsung selesai. Evilaki ditolak, Highway Coffee tidak cocok. Hingga muncul satu kata yang terasa jujur dengan perjalanan mereka, Brave.

Katanya, Nama Brave hadir karena mereka memulai tanpa kepastian, karena mimpi lebih besar dari modal. Serta karena keberanian adalah satu-satunya hal yang mereka punya.

Ruang Kecil yang Menarik Orang Datang
Setiap malam, dari pukul 19.00 hingga dini hari, Brave Coffee menjadi salah satu titik perhentian anak-anak muda.

Kursi kayu bekas yang tak seberapa itu kerap penuh oleh pelanggan yang berbincang, belajar, atau sekadar menenangkan kepala setelah hari panjang.

Menunya ramah di kantong Rp7.000 hingga Rp17.000 tetapi cukup untuk membuat lapak itu bertahan dan perlahan tumbuh.

Ila pun menyimpan satu cita-cita sederhana, suatu hari memiliki kedai kopi estetik, tempat anak muda bisa merasa pulang.

Baca Juga :  Festival Peekaboo 2024 Sukses Digelar, TNI-Polri Pastikan Keamanan Kondusif

Untuk sementara, ia menabung dari lapak kecil itu sambil bermimpi mengganti kursi-kursi bekas dengan kursi lipat atau kursi camping agar pelanggan lebih nyaman.

“Pelan-pelan saja,” katanya.

Dirinya tidak lupa menyebut peran Pemerintah Kota Gorontalo, khususnya Wali Kota, yang memberi ruang bagi UMKM untuk tumbuh di Pasar Sentral.

Tanpa biaya lapak, tanpa pungutan berat, listrik disediakan. Itu membuatnya bisa bertahan.

“Dari lapak ini saya bisa menabung, membantu keluarga, dan membiayai kuliah,” ucapnya.

Malam di Pasar Sentral selalu memiliki caranya sendiri memanggil orang-orang yang sedang berjuang. Ila salah satunya.

Di tengah riuh yang tak pernah benar-benar tidur, ia menyeduh kopi sambil menjaga satu keyakinan kecil, bahwa mimpi bisa tumbuh bahkan dari tempat yang sangat sederhana.

Brave Coffee bukan sekadar lapak, ia adalah penanda perjalanan seorang perempuan muda yang memilih tidak menyerah pada keadaan.

Redaktur Komparasi.id