KOMPARASI.ID – Pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait tarif impor memicu kemarahan di berbagai penjuru dunia.
Kebijakan reciprocal tariffs atau tarif timbal balik yang diumumkan pada Rabu, (2/4/2025), langsung memicu gelombang ancaman balasan dari sejumlah negara besar.
Siapa saja yang siap menghadapi kebijakan ini? Dan siapa yang memilih untuk menempuh jalur diplomasi?
Uni Eropa: Siap Perang Dagang dan Targetkan Layanan Digital
Mengutip Al Jazeera pada Kamis, 3 April 2025, juru bicara pemerintah Prancis, Sophie Primas, menyatakan bahwa Uni Eropa “siap menghadapi perang dagang”.
Ia mengungkapkan bahwa blok tersebut telah menyiapkan “dua tahap balasan”: tahap pertama akan menyasar produk aluminium dan baja, sementara tahap kedua akan mencakup “seluruh produk dan layanan” pada akhir April.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, tidak kalah keras dalam mengkritik kebijakan Trump. Ia menyebutkan bahwa kebijakan ini merupakan “pukulan berat bagi ekonomi global”.
Von der Leyen memperingatkan, “Konsekuensinya akan sangat merugikan bagi jutaan orang di seluruh dunia,” dengan potensi kenaikan harga pada makanan, transportasi, dan obat-obatan.
China: Siap Mengambil ‘Langkah Balasan’
China segera bereaksi atas kebijakan tarif AS yang kini mencakup 54 persen terhadap produk China. Kementerian Perdagangan Tiongkok menganggap kebijakan ini sebagai bentuk “perundungan”.
Dalam pernyataannya, Beijing menyatakan akan mengambil “langkah-langkah balasan untuk menjaga hak dan kepentingannya”.
Menariknya, Al Jazeera melaporkan bahwa baik Beijing maupun Taipei sementara ini berada di posisi yang sama dalam mengecam tarif ini.
Taiwan menyebutkan bahwa tarif sebesar 32 persen terhadap produk-produknya adalah “sangat tidak masuk akal”, dan juru bicara kabinet, Michelle Lee, menegaskan bahwa Taipei “sangat menyesalkan” keputusan Trump.
Kanada: Tak Terkena Tarif, Tapi Siap Melawan
Meski Kanada tidak masuk dalam daftar tarif baru yang diumumkan Trump pada 2 April 2025, Kanada sudah dikenakan tarif sebesar 25 persen untuk seluruh ekspor ke AS yang tidak tercakup dalam perjanjian dagang US-Mexico-Canada (USMCA).
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dengan tegas menyatakan penolakan terhadap kebijakan proteksionis Washington. “Di tengah krisis ini, kami harus bertindak dengan tujuan,” tulis Carney di media sosial.
Ia menegaskan, “Pemerintah saya akan melawan tarif AS,” memberikan sinyal bahwa Kanada tetap siap melakukan pembalasan.
Negara yang Memilih Menahan Diri: Inggris dan Meksiko
Namun, tidak semua negara memilih untuk membalas dengan tarif. Beberapa memilih jalur diplomasi dengan kepala dingin.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa Inggris akan “menjaga kepala tetap dingin dalam beberapa hari ke depan”, menunjukkan bahwa mereka belum berniat untuk mengeluarkan tarif balasan.
Meksiko, di sisi lain, juga memilih sikap serupa. Presiden Claudia Sheinbaum menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerapkan “tarif balasan satu lawan satu” dan lebih memilih untuk menyelesaikan masalah ini melalui perundingan.
Sementara itu, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengkritik kebijakan Trump sebagai langkah yang “sama sekali tidak berdasar” dan menambahkan bahwa ini “bukan tindakan seorang sahabat”.
Meskipun belum ada pengumuman resmi tentang balasan, pernyataan tersebut mengisyaratkan sikap tegas dari Canberra.
Perpecahan Respons: Perlawanan Terbuka vs Diplomasi Hati-Hati
Respon dunia terhadap tarif yang diterapkan Trump terpecah antara perlawanan terbuka dan diplomasi hati-hati. Uni Eropa, China, dan Kanada tampaknya akan memimpin gelombang balasan, sementara Inggris dan Meksiko memilih untuk mengedepankan dialog.
Namun, dengan semakin banyak negara yang merasa dirugikan, tampaknya konflik dagang global hanya tinggal menunggu waktu.
Mengutip Al Jazeera pada Kamis, 3 April 2025, Trump menyebut tanggal 2 April sebagai “hari kelahiran kembali industri Amerika”.
Namun bagi dunia, tanggal ini mungkin akan dikenang sebagai awal dari babak baru dalam perang dagang global.














