Begadang Jadi Gaya Hidup Gen Z: Nikmat Sesaat, Bahaya Permanen untuk Jantung

KOMPARASI.ID – Bagi sebagian Generasi Z, begadang bukan lagi sekadar kebiasaan, tapi sudah jadi lifestyle.

Entah karena bermain game, maraton serial, bergulir di media sosial hingga larut, atau mengejar deadline tugas, malam hari justru jadi waktu paling produktif sekaligus paling berisiko.

Tanpa disadari, kebiasaan tidur larut ternyata tidak hanya menyebabkan mata panda, tapi juga dapat mengancam kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Hadir di Gorontalo, Fore Coffee Siap Temani Momen Santai dan Produktifmu

Spesialis jantung dan pembuluh darah Braveheart, Brawijaya Hospital Saharjo, Dr. dr. M. Yamin, SpJP(K), SpPD, FACC, FSCAI, FAPHRS, FHRS, menjelaskan, mereka yang sering tidur larut berpotensi mengalami sleep deprivation atau kekurangan tidur kronis.

“Secara jangka panjang pasti berpengaruh ke jantung, meski tidak langsung. Semua sistem organ bisa terdampak, bukan hanya jantung saja,” ujar dr. Yamin dalam acara BraveTalk ‘Basic Life Support & Sudden Cardiac Death’ di Jakarta Selatan. Dilansir dari detik.com

Mengapa Begadang Bisa ‘Merusak’ Jantung?
Menurut data dari Harvard Health, tidur yang kurang dari 6 jam per malam dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, obesitas, hingga penyakit jantung koroner.

Baca Juga :  Aktif Bersosialisasi Bisa Jaga Kesehatan Otak, Ini Faktanya!

Direktur Pusat Gangguan Tidur di VA Boston Healthcare System, Dr. Daniel Gottlieb, menjelaskan bahwa kurang tidur mengacaukan hormon pengatur lapar dan kenyang, seperti leptin dan ghrelin.

Baca Juga :  Zodiak Hari Ini 18 April 2025, Waktunya Menyusun Arah dan Menutup Siklus

Akibatnya, seseorang cenderung makan lebih banyak, terutama makanan tinggi lemak dan karbohidrat.

Jika kebiasaan ini berlangsung lama, maka metabolisme tubuh terganggu dan menambah beban kerja jantung.

Inilah yang membuat begadang terasa “tidak berbahaya di awal”, padahal efeknya bisa menumpuk seiring waktu.

Redaktur Komparasi.id