KOMPARASI.ID – Teriknya Padang Arafah tak menyurutkan kekhusyukan jutaan jamaah haji yang menjalani puncak ibadah haji, wukuf di Arafah.
Di tengah suhu gurun yang ekstrem, momentum ini justru menjadi ruang perenungan mendalam bagi umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, mengatakan bahwa wukuf bukan sekadar ritual fisik, melainkan momentum spiritual yang sarat doa dan introspeksi diri.
“Bagi orang mukmin, doa adalah senjatanya. Ada hal yang mungkin menurut akal manusia sulit diubah, tetapi dengan doa dan kehendak Allah SWT, semuanya bisa terjadi,” kata Cholil Nafis di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026) waktu setempat.
Menurut dia, suasana wukuf tahun ini terasa lebih bersahabat dibanding hari-hari sebelumnya.
Jika suhu sempat mencapai 49 hingga 50 derajat celsius, saat pelaksanaan wukuf cuaca berada di kisaran 40 derajat celsius.
“Kemarin memang sangat panas, tetapi hari ini terasa lebih sejuk. Mungkin ini pertolongan Allah SWT bagi jamaah saat wukuf berlangsung,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok itu menyebut, kondisi tersebut disambut antusias jamaah yang telah menunggu bertahun-tahun untuk menunaikan ibadah haji. Banyak jamaah tampak khusyuk membaca Al Quran, berdzikir, dan memanjatkan doa di Padang Arafah.
Cholil menjelaskan, wukuf merupakan rukun haji paling utama. Karena itu, momentum berada di Arafah dimaknai sebagai kesempatan bagi jamaah untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan mengenali diri sendiri.
“Di Arafah kita diajak memahami diri. Ketika seseorang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Allah SWT yang menciptakannya,” kata Wakil Ketua Umum MUI tersebut.
Ia juga menilai, wukuf menjadi simbol pemurnian tauhid. Jamaah datang dengan pakaian sederhana, meninggalkan harta, jabatan, dan urusan dunia demi memenuhi panggilan ibadah.
“Di sini semua dikembalikan kepada Allah SWT. Bukan harta, jabatan, popularitas, atau hal duniawi lainnya yang menjadi tujuan utama manusia,” tuturnya.










Leave a Reply