Dari Bakulanku ke Daily Risol, Perjalanan Yanti Menjaga Rasa yang Dicari Banyak Orang

KOMPARASI.ID – Enam tahun lalu, Yanti Tamola hanya berharap risoles buatannya habis terjual setiap pagi. Dari dapur rumah sederhana, ibu rumah tangga di Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato itu merintis usaha kecil yang kemudian dikenal dengan nama Bakulanku.

Setiap subuh, ia membuat risoles lalu menitipkannya di Toko Ormas, salah satu pusat penjualan kue di Marisa. Tak ada toko sendiri, apalagi lapak permanen. Yang ia miliki hanyalah resep, ketekunan, dan keyakinan bahwa rasa yang enak akan selalu menemukan pembelinya.

Keyakinan itu terbukti. Cita rasa risoles buatannya mulai dikenal masyarakat Marisa. Pelanggan pun terus bertambah dari waktu ke waktu.

Kini, setelah enam tahun mempertahankan kualitas, Yanti menghadirkan babak baru dalam perjalanan usahanya melalui brand Daily Risol. Nama itu dipilih dengan alasan sederhana, agar pelanggan tidak lagi harus menunggu pagi untuk menikmati risoles buatannya.

Baca Juga :  Hiu Paus Botubarani, Primadona Wisata Gorontalo yang Tak Pernah Redup

Jika sebelumnya risoles hanya tersedia melalui penitipan di Toko Ormas setiap pagi, kini masyarakat bisa datang langsung ke lapaknya setiap sore hingga malam di Jalan Sultan Amay, Desa Botubilotahu, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, tepat di jalur menuju RS Panua dan bersebelahan dengan SDN 6 Botubilotahu.

Di bawah tenda berwarna biru dengan stan bernuansa kuning yang berdiri di atas garasi rumah, Daily Risol menjadi tempat baru bagi pecinta jajanan gurih dan manis di Marisa.

Meski menghadirkan brand baru, Yanti tetap mempertahankan penjualan melalui Bakulanku pada pagi hari di Toko Ormas.

Sementara Daily Risol melayani pelanggan yang ingin menikmati risoles hangat pada sore hingga malam. Dengan begitu, pelanggan kini memiliki lebih banyak pilihan waktu untuk menikmati produk buatannya.

Perkembangan usaha tersebut juga membawa perubahan dalam aktivitas sehari-hari Yanti. Jika dahulu hampir seluruh proses produksi hingga penjualan ia kerjakan sendiri, kini ia telah mempekerjakan dua orang karyawan untuk melayani pembeli di lapak Daily Risol.

Baca Juga :  Didesak Ribuan Peserta Akhirnya Mystery Box Terbuka Ramaikan Fun Run Gorontalo 2025

Kehadiran mereka membuat Yanti dapat lebih fokus menjaga kualitas produk, menyiapkan stok risoles, sekaligus mengembangkan usahanya agar terus bertumbuh.

Tak hanya mempertahankan risoles klasik berisi ragut sayur, Daily Risol juga menghadirkan berbagai varian rasa kekinian yang disesuaikan dengan selera pelanggan.

Pilihan menu yang tersedia antara lain Ragut Sayur seharga Rp3.000, kemudian Ayam Suwir Pedas, Ayam Mayo Pedas, Mayo Telur Sosis, Bolognese, Choco Cheese, hingga Matcha Cheese yang masing-masing dijual dengan harga Rp4.000 per buah.

Dengan harga yang ramah di kantong, Daily Risol menjadi pilihan camilan untuk berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja hingga keluarga.

Baca Juga :  Toedjoean Coffee: Ruang Singgah Anak Muda di Sudut Kota Gorontalo dengan Harga Ramah Kantong

Salah seorang pelanggan mengaku cita rasa risoles buatan Yanti menjadi alasan dirinya selalu menyempatkan mampir ketika berada di Marisa.

“Soal rasa tidak pernah bohong. Baik menggunakan brand Bakulanku maupun Daily Risol, semua warga Marisa tahu persis rasa khasnya. Saya pun sangat menikmati jika berkunjung ke Marisa,” ujar seorang pembeli.

Bagi Yanti, Daily Risol bukan sekadar tempat berjualan. Lapak sederhana itu menjadi simbol perjalanan panjang seorang ibu rumah tangga yang berani memulai usaha dari rumah dan terus berinovasi mengikuti kebutuhan pelanggan.

Kini, masyarakat tak lagi harus berburu risoles hanya pada pagi hari. Cukup datang ke Daily Risol di Jalan Sultan Amay, Desa Botubilotahu, Kecamatan Marisa, hanya beberapa menit dari pusat Kota Marisa, untuk menikmati risoles hangat dengan berbagai pilihan rasa setiap hari.

Lulusan Ilmu Komunikasi konsentrasi jurnalistik ini meniti karier dari dunia penyiaran radio. Ia juga sempat berkarir di media cetak majalah dan surat kabar dengan pengalaman di berbagai media lokal hingga nasional. Perjalanan yang dimulainya sejak tahun 2012 ini membentuknya sebagai jurnalis yang, adaptif, dan berorientasi pada kekuatan narasi.