Sejarah Malam Lailatul Qadar di Bulan Suci Ramadhan

KOMPARASI.ID – Malam Lailatul Qadar, sebuah momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam, merupakan malam istimewa yang dipenuhi dengan kemuliaan dan berkah. Namun, apa sebenarnya sejarah di balik Malam Lailatul Qadar?

Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Syifa’ul Alil fi Masa’ilil Qadha wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lil”, “al-qadar” merupakan bentuk masdar dari kata “qadara”.

Kata “qadara asy-syai’a” berarti seseorang menentukan sesuatu, sementara kata “yuqaddiruhu qadran” berarti seseorang akan menentukan sesuatu dengan ukuran tertentu. Jadi, Lailatul Qadar artinya malam penetapan dan penentuan.

Melansir detik.com Sufyan meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih dan dari Mujahid bahwa Lailatul Qadar adalah malam penentuan. Sufyan juga meriwayatkan dari Muhammad Ibn Syauqah, dari Sai’is ibn Jubair, yang menyatakan, “Orang-orang yang menunaikan ibadah haji pada malam Lailatul Qadar disuruh untuk menuliskan nama mereka serta nama ayah mereka, dan tidak ada satupun yang tertinggal atau ditambah.”

Baca Juga :  Sejarah Popcorn Sahabat Setia Nikmati Kisah di Layar Lebar

Sementara itu, Ibnu Aliyyah menyampaikan, “Rabi’ah ibn Kultsum menceritakan bahwa seseorang bertanya kepada Hasan, ‘Apakah Lailatul Qadar turun setiap bulan Ramadan?’ Hasan menjawab, ‘Ya, sungguh benar. Lailatul Qadar turun setiap bulan Ramadan. Pada malam itu, Allah menetapkan ajal, perbuatan, dan rezeki setiap hamba-Nya.'”

Baca Juga :  Selayang Pandang Gorontalo sebelum menjadi Provinsi

Dalam riwayat lain, Yusuf Ibn Mahrah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa pada malam Lailatul Qadar, dari Ummul Kitab ditulis segala urusan yang akan terjadi selama satu tahun penuh, termasuk urusan hidup-mati, rezeki, dan hingga perjalanan ibadah haji.

Sejarah turunnya Lailatul Qadar juga dijelaskan oleh M. Quraish Shihab dalam buku “Wawasan Al-Qur’an”. Ketika Nabi Muhammad SAW berada di Gua Hira, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dengan membawa wahyu pertama, menjadikan Nabi sebagai Rasul Allah SWT.

Baca Juga :  Jejak Pohuwato Dari Perjalanan Mbu’i Owutango hingga Daerah Otonom

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, diceritakan bahwa Allah menurunkan Lailatul Qadar sebagai penghargaan yang lebih baik dari ibadah yang dilakukan oleh umat sebelumnya. Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Keutamaan beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih utama daripada seribu bulan lainnya. Para ulama menyarankan mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan, dengan mayoritas ulama menyatakan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 bulan Ramadan.