Ketuk Sahur di Gorontalo, Tradisi, Musik, dan Semangat Ramadhan yang Tak Pudar

KOMPARASI.ID Malam di Gorontalo tak selalu sunyi saat bulan Ramadhan menjelang.

Di Jalan Mayor Dullah Talumolo, Kecamatan Kota Timur, irama musik membelah keheningan, berpadu dengan suara ketukan bambu yang khas.

Ini bukan sekadar pertunjukan jalanan, melainkan persiapan Komunitas Ketuk Sahur Koko’o Bugis Camp dalam menjaga tradisi turun-temurun, membangunkan sahur dengan irama.

Beberapa anak muda terlihat memukul drum dengan penuh semangat. Di sudut lain, orang-orang tua memainkan koko’o kentungan bambu yang menjadi ciri khas kelompok ini.

Di antara dentuman dan ketukan ritmis, tawa dan canda lepas terdengar, menandakan ikatan kuat antaranggota komunitas.

Baca Juga :  Pekan Raya Showroom Suzuki Hadir di Gorontalo: Program Menarik dan Hadiah Langsung!

Rahmat Harun, Ketua Panitia Koko’o Bugis Camp, menuturkan bahwa latihan ini bukan sekadar persiapan teknis, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan tradisi.

“Kami mulai membangunkan sahur dari malam pertama Ramadhan hingga akhir bulan. Ini sudah menjadi bagian dari identitas kami,” katanya.

Bagi warga luar, pemandangan ini mungkin tampak seperti hiburan jalanan biasa.

Keterangan: Anak-anak Bugis Camp melangsungkan latihan ketukan sahur/Koko'o. (Fiki Indrawan/komparasi.id)
Keterangan: Anak-anak Bugis Camp melangsungkan latihan ketukan sahur/Koko’o. (Fiki Indrawan/komparasi.id)

Tak jarang, pengendara yang melintas melambatkan laju kendaraan mereka, bahkan ada yang sengaja berhenti untuk menikmati irama yang dimainkan.

Baca Juga :  Kolaborasi Amanasa x ZapFinance Mengadakan Webinar "Jebakan Gengsi & Impulsivitas dalam berhutang

Namun, bagi masyarakat Gorontalo, ini lebih dari sekadar musik. Tradisi membangunkan sahur dengan alat musik sudah berlangsung lama di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, di Gorontalo, koko’o menjadi elemen khas yang membedakannya. Alat musik ini dibuat dari bambu yang dipukul dengan ritme tertentu, menghasilkan suara nyaring yang mampu membangunkan warga dengan cara unik dan berkarakter.

Lagu-lagu yang dimainkan pun terus berkembang. Dari tahun ke tahun, komunitas ini menciptakan aransemen baru ada yang berupa plesetan dari lagu populer, ada pula komposisi orisinal hasil kreativitas anggota kelompok.

Baca Juga :  City Food Fest dan Ikhtiar Menata Ulang Etalase Ekonomi Gorontalo

Bagi Rahmat dan anggota komunitas lainnya, tradisi ini bukan hanya soal membangunkan orang untuk sahur.

“Kami ingin Ramadhan terasa lebih semarak. Ini cara kami berbagi kebahagiaan dengan masyarakat,” ujarnya.

Malam itu, latihan mereka terus berlanjut hingga larut. Di balik ketukan bambu dan irama yang mengalun, ada semangat kebersamaan yang terus dijaga.

persiapan semakin matang, Komunitas Ketuk Sahur Koko’o Bugis Camp siap kembali menghidupkan tradisi ini menyambut Ramadhan dengan musik, tawa, dan identitas yang tetap terjaga.

Redaktur Komparasi.id