Mengapa PSI Ganti Logo, Sekadar Rebranding atau Manuver Kekuasaan?

Logo baru PSI
Logo baru PSI

KOMPARASI.ID – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuat langkah yang tak sekadar simbolik dalam Kongres di Solo. Selain mengukuhkan kepengurusan, partai yang identik dengan wajah-wajah muda ini memperkenalkan identitas visual baru, meninggalkan lambang tangan menggenggam mawar merah dan menggantinya dengan gajah berwarna merah dan hitam.

Di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep, perubahan ini bukan sekadar pergantian logo. Ia merupakan pernyataan politik.

Selama ini, mawar merah merepresentasikan citra PSI sebagai partai anak muda, antikorupsi, dan pembawa idealisme baru. Namun, keputusan beralih ke simbol gajah menghadirkan tafsir berbeda.

Verdy Firmantoro, Dosen Komunikasi Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, melihat perubahan tersebut sebagai strategi simbolik yang cermat.

“PSI dengan mawar pernah menandai diri sebagai partai anak muda, antikorupsi, dan mewakili idealisme ‘baru’. Namun, berubah ke simbol gajah yang secara historis diasosiasikan dengan kebesaran, memori kuat, dan stabilitas kekuasaan,” jelas Verdy 

Baca Juga :  Nasdem Bantah Turunnya Suara RG: Tren Kenaikan 7-10 Persen

Dalam simbolisme politik, gajah kerap dimaknai sebagai lambang kekuatan, daya ingat panjang, serta keteguhan. Dalam tradisi India dan Asia Tenggara, gajah juga hadir sebagai simbol legitimasi dan otoritas kekuasaan kerajaan.

Artinya, menurut Verdy, PSI sedang menggeser narasi dari sekadar aktivisme moral menuju ambisi menjadi pusat kekuatan politik. Dari pengkritik menjadi pemimpin.

Sinyal Tantangan ke PDIP?

Menariknya, Verdy membaca pesan yang lebih tegas di balik pilihan simbol tersebut. Ia menyinggung kemungkinan proyeksi pertarungan simbolik dengan PDI Perjuangan.

Jika banteng menjadi identitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, maka kemunculan gajah membuka tafsir baru, Gajah versus Banteng.

“Setidaknya ini memberi pesan politik bahwa proyeksi utama PSI ingin menjadi lawan tanding PDIP. Jika mawar terlalu ‘lembut’ untuk realitas politik Indonesia yang keras, maka gajah diposisikan untuk menyesuaikan diri dengan gaya politik yang lebih kuat,” ujarnya.

Baca Juga :  IRIS Gelar Penguatan Tim Pemenangan di Bone Pesisir

Dalam kacamata political branding, ini adalah upaya meninggalkan “minority image” dan mengadopsi “mainstream identity”. PSI tak lagi ingin dipersepsikan sebagai partai kecil penuh kritik, melainkan sebagai aktor yang siap berkuasa.

Risiko Kehilangan Basis Ideologis

Namun, setiap reposisi membawa konsekuensi. Verdy menilai transformasi ini bisa dibaca sebagai pengorbanan sebagian basis ideologis awal demi kepentingan kekuasaan yang lebih besar.

PSI, yang dulu menonjolkan diferensiasi moral dan idealisme generasi muda, kini berupaya tampil lebih matang dan strategis. Perubahan ini juga dinilai sebagai bagian dari branding elektoral jangka panjang menuju Pemilu 2029.

Dengan elektabilitas yang belum signifikan, diferensiasi simbol menjadi penting. Gajah bukan hanya gambar baru, melainkan pesan bahwa PSI tak lagi underdog.

Baca Juga :  Anies Baswedan Orasi Inspiratif, Komitmen Perubahan di Gorontalo

“Mereka mengirim sinyal kepada pemilih baru bahwa PSI telah bertransformasi menjadi lebih matang dalam berkontestasi politik,” kata Verdy.

Ruang Politik Baru Pasca Jokowi

Lebih jauh, Verdy membaca rebranding ini dalam konteks politik nasional yang lebih luas, terutama setelah hubungan Joko Widodo dengan PDIP merenggang. PSI dengan identitas barunya disebut berpotensi menjadi ruang politik baru bagi Jokowi.

Dalam lanskap pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, PSI dapat dibaca sebagai kendaraan politik yang siap menampung dan melanjutkan pengaruh Jokowi.

Namun pada akhirnya, simbol hanya pintu masuk. Rebranding akan diuji bukan pada desain, melainkan pada konsistensi narasi dan tindakan politik di ruang publik.

“Upaya reposisi PSI ini menarik, tetapi tetap harus diikuti dengan narasi dan aksi politik yang konkret untuk diuji di ruang publik,” pungkas Verdy Firmantoro.