Save 20% off! Join our newsletter and get 20% off right away!

Tradisi Lebaran Ketupat, Instrumen Merajut Persaudaraan di Gorontalo

ilustrasi ketupat

KOMPARASI.ID –  Perayaan Lebaran Ketupat di Gorontalo dimulai oleh masyarakat keturunan Jawa-Tondano (Jaton) sejak mereka tiba pada tahun 1909.

Kelompok transmigran dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini menetap di Desa Kaliyoso, Reksonegoro, Mulyonegoro, dan Yosonegoro, Kabupaten Gorontalo.

Mereka adalah keturunan Kiai Modjo yang dipindahkan oleh Belanda ke Minahasa sebelum akhirnya menyebar ke Gorontalo, membawa budaya perayaan Lebaran Ketupat atau Hari Raya Sunnah.

Baca Juga :  G30S/PKI: Kisah Kudeta yang Menggoreskan Luka dalam Sejarah Bangsa

Sebelum memasuki perayaan Lebaran Ketupat, masyarakat Jaton menjalankan puasa sunnah Syawal selama enam hari setelah Idulfitri.

Puncaknya adalah saat mereka membawa makanan ke masjid untuk didoakan bersama sebelum disantap dalam acara silaturahmi dengan masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Refleksi HUT Provinsi Gorontalo ke-24, Prof. Nelson dan Sekilas Perjuangan yang Bermakna

Husin Nurkamiden, tokoh masyarakat Jaton di Desa Kaliyoso, Limboto Barat, mengungkapkan bahwa ciri khas menu dalam perayaan ini meliputi kue mendut, serabi, koa, ketupat, daging ayam, dan sapi.

Yamin Husain, Anggota Dewan Adat Gorontalo, menjelaskan bahwa tradisi ini juga diikuti oleh masyarakat keturunan Jawa di Gorontalo. Saat ini, beberapa wilayah di Gorontalo turut menggelar perayaan Lebaran Ketupat.

Baca Juga :  "Puwayo" dan Mitos Larangan Memaki dalam Tradisi Gorontalo

Perayaan ini menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi dan mempererat persaudaraan antar sesama masyarakat Gorontalo.

“Semoga momen Lebaran ini juga membawa pesan damai, penuh pengampunan, dan memperkuat tali persaudaraan di antara kita,” ujar Yamin di Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango.