KOMPARASI.ID – Tiga bulan menunggu pembayaran jasa kendaraan yang digunakan dalam pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo membuat Sumarlin Amal memilih cara lain.
Owner Nebo Turatea Rent Car Palu itu memberanikan diri menyampaikan langsung persoalan yang dihadapinya kepada Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. Amran Sulaiman, saat memberikan orasi ilmiah dalam Wisuda Universitas Tadulako Periode 137 Tahun 2026, Kamis (20/8/2026).
Sumarlin yang merupakan alumni Universitas Tadulako sengaja menemui Amran Sulaiman karena berbagai upaya yang ditempuhnya selama berada di Gorontalo, belum memberikan kepastian mengenai pembayaran jasa kendaraan yang telah digunakan selama PENAS XVII.

Ia mengaku sudah tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa.
“Saya menyadari apa yang saya sampaikan ini mungkin berada di luar konteks acara sakral wisuda. Namun, saya sudah tidak tahu lagi harus mengadu dan menempuh jalur seperti apa untuk menyelesaikan persoalan yang hingga hari ini masih membebani saya dan teman-teman sesama penyedia jasa transportasi,” ujar Sumarlin.
Sampaikan Langsung di Hadapan Mentan
Dalam kesempatan tersebut, Sumarlin menyampaikan bahwa dirinya bersama penyedia jasa transportasi lainnya telah membawa kendaraan dari Palu ke Gorontalo untuk mendukung pelaksanaan PENAS 2026.
Sejumlah kendaraan tersebut digunakan untuk melayani tamu dan jajaran Kementerian Pertanian, termasuk Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian.
Armada yang dibawa antara lain Toyota Avanza, Toyota Zenix Q, Toyota Innova Reborn, Toyota Hiace Luxury hingga Toyota Alphard.
Menurut Sumarlin, kendaraan dari Palu dibagi dalam dua kloter. Palu I membawa 33 unit kendaraan, sedangkan Palu II sebanyak 22 unit.
” unit paling jauh yang kami bawa itu Alphard dari makassar yang dikendarai oleh Pak Mentan dan Hiace luxury di pakai langsung oleh Wakil Mentan.”ungkapnya.
Namun, setelah kegiatan PENAS XVII berakhir pada Juni 2026, pembayaran jasa kendaraan tersebut belum diselesaikan secara penuh.
Untuk Nebo Turatea atau Palu I, Sumarlin menyebut masih terdapat tagihan sekitar Rp332 juta yang belum dibayarkan.
“Kementerian sudah menyelesaikan kewajiban pembayaran ke vendor, namun justru vendor ke saya sebagai penyedia jasa kendaraan dari Palu justru belum terselesaikan secara penuh, padahal jajaran kementerian menggunakan unit kendaraan dari saya atau dari Palu, hingga saat ini baru kami Terima, baru 200 masih ada 325 juta yang kami ajukan ke vendor dan belum terbayarkan.”tukas Sumarlin .
Sudah Tempuh Berbagai Jalur
Sebelum memilih pulang ke Palu dan menyampaikan persoalan tersebut langsung kepada Mentan, Sumarlin mengaku telah menempuh berbagai upaya di Gorontalo.
Ia dan sejumlah penyedia jasa, yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Rakyat Nusantara (APRN) sebelumnya melaporkan persoalan pembayaran tersebut ke Kejaksaan Tinggi Gorontalo pada 5 Agustus 2026.
Laporan itu ditempuh setelah berbagai pendekatan kepada pihak vendor, termasuk musyawarah dan negosiasi, tidak menghasilkan kepastian pembayaran.
“Selama tiga bulan di Gorontalo kami sudah menempuh berbagai langkah agar unit kendaraan kami segera dilunasi, baik persuasif kepada vendor atau dalam hal ini pihak perusahaan, yang berlangsung selama dua bulan, baik pendekatan, musyawarah, negosiasi, tapi tidak membuahkan hasil.”tutur Sumarlin yang akrab disapa Nebo.
Persoalan tersebut juga telah disampaikan kepada pihak Pemerintah Provinsi Gorontalo hingga DPRD Provinsi Gorontalo. Sumarlin mengatakan pembahasan di DPRD kemudian berlanjut dalam rapat dengar pendapat (RDP).
“Dan langkah terakhir kami ke DPRD Provinsi Gorontalo hingga berakhir di RDP, dan saat ini masih menunggu hasil tindaklanjut dari DPRD.”tuturnya.
Menurut Sumarlin, persoalan pembayaran tidak hanya dialami dirinya. Penyedia jasa transportasi dan pengemudi lainnya juga disebut masih menunggu pembayaran.
“Hampir semua kendaraan belum terbayarkan, termasuk hal lembur driver belum juga terbayarkan sampai saat ini.”ungkapnya.
Berharap Persoalan Didengar Mentan
Setelah tiga bulan bertahan di Gorontalo untuk memperjuangkan pembayaran, Sumarlin akhirnya memilih kembali ke Palu.
Kepulangannya kali ini bukan sekadar untuk kembali ke kampung halaman. Ia ingin memastikan persoalan yang selama ini diperjuangkannya dapat langsung didengar oleh Menteri Pertanian.
“Saya mohon, Puang Amran, tolong bantu kami. Kami datang ke Gorontalo membawa kendaraan karena ingin membantu pemerintah. Kami melayani tamu, menjaga kendaraan, bekerja siang dan malam, mengeluarkan modal dan menanggung risiko. Sekarang kami hanya berharap hak kami dikembalikan,” ujarnya.
Sumarlin menegaskan, dirinya tidak meminta sesuatu yang bukan menjadi haknya.
“Kami bukan perusahaan besar. Kami masyarakat kecil yang menjalankan usaha jasa transportasi. Kami tidak meminta sesuatu yang bukan hak kami. Kami hanya meminta pembayaran atas kendaraan dan pelayanan yang benar-benar telah kami berikan,” tegasnya.
Ia berharap pertemuannya dengan Mentan Amran Sulaiman dapat menjadi jalan keluar bagi dirinya dan penyedia jasa transportasi lainnya yang hingga kini masih menunggu pembayaran atas pekerjaan selama PENAS XVII.
Sementara itu, PT QDua Sukses Mandiri sebelumnya menyatakan bahwa proses pembayaran masih berkaitan dengan pencocokan data antara penggunaan kendaraan, invoice, dan pekerjaan di lapangan.
**Cek berita dan artikel terbaru Komparasi.id dengan mengikuti WhatsApp Channel









Leave a Reply